Dalam
kenyataannya, kejadian semacam itu banyak kita jumpai di sana sini, ingin masuk
perusahaan kalau tidak ada orang yang dikenal di dalamnya bisa dipastikan tidak
akan bisa masuk kecuali dengan menggunakan media pelicin berupa uang, rangkaian
proses perekrutan pegawai berupa tes, wawancara dan lain sebagainya hanya
bersifat formalitas belaka, masuk sekolah bonafid, banyak yang mengandalkan
kongkalikong antara pihak penyelenggara dengan orang tua, jika ada rekan,
teman, sahabat atau saudara didalamnya, dapat dipastikan akan dengan lancer
masuk didalamnya. Dan masih banyak praktik-praktik serupa lainnya.
Berbagai
pihak sudah merasa terbiasa dengan praktek demikian, kalau tidak menginginkan
keluar uang dalam rangka kolusi dengan menyogok petugas, berarti harus
memanfaatkan kecurangan lainnya yaitu nepotisme, hal itu ditempuh jika terdapat
beberapa orang terdekat di obyek yang dituju. Dalam artian meninggalkan kolusi
dan beralih ke praktek nepotisme.
Hal
demikian ditempuh demi dan untuk kepentingan masing-masing, karena jika pilihan
itu tidak diambil, maka tujuan-tujuan dari kedua belah pihakpun tidak akan
tercapai, ibarat kata menjalankan praktek simbiosis mutualisme yang berkonotasi
negatif, sama-sama saling menguntungkan, pihak luar berharap bisa diterima
dengan mudah dan pihak dalam menjalankan jabatannya demi mendapatkan ceperan
dari pihak luar selain gaji pokok, jadi ada transaksi setuju sama setuju
didalamnya.
Pertanyaan
mengemuka, mengapa alternatifnya hanya dua?, kolusi atau nepotisme. mengapa
tidak dimunculkan pilihan berganda lainnya, dengan kompetensi misalnya, atau
dengan kejujuran serta loyalitas yang solid, komitmen yang tinggi juga bisa
dimasukkan dalam daftar berikutnya, tapi lagi-lagi masyarakat lebih banyak yang
memilih dengan pembatasan alternative dua diatas, karena apa?, karena hanya ada
satu jawabannya, tidak mau sulit dan susah menjalani prosesnya, enggan mengasah
kemampuan yang mungkin juga banyak mengeluarkan upaya, daya, waktu dan dana.
maunya instan, mudah, ekonomis, tidak keluar keringat dan tidak ribet.
Kalau
sudah demikian, sangat sulit rasanya mengentaskan negeri ini dari praktik
menyimpang, kebiasaan ini seolah sudah mendarah daging pada semua lapisan
masyarakat. Butuh komitmen bersama untuk menghilangkan praktek tidak terpuji
ini, kalau semua bisa berkooperasi dengan baik, maka kemurnian perbuatan serta
kebersihan tindakan merupakan sebuah keniscayaan. Wallahua’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar