Minggu, 07 Januari 2018

MENGASAH RASA SYUKUR MELALUI PERBAIKAN JALAN



    

      Menyita perhatian dan jadi kerap mengeluh, saat jalan menuju tempat kerja tidak ada yang layak untuk dilewati, banyak waktu tersita dan terbuang menurut hemat saya, motor selalu kotor dan belepotan lumpur setiap pulang dari kerja, sehingga harus membersihkannya terlebih dahulu ketika hendak berangkat kerja esok hari, setelah kendaraan bersih digunakan untuk berangkat kerja, pulang kerja sudah kotor lagi, begitu seterusnya. Sampai kapan harus begini, bagaimana sikap pemerintah melihat kondisi demikian, gumamku.
       Kini jalan-jalan tersebut telah diperbaiki, dan kerjapun menjadi lebih bersemangat, pada awalnya, keluh kesahpun ini mulai terkurangi, namun rasa kesal mulai muncul dari obyek lainnya, muai dari genangan air yang tak bisa habis karena belum adanya drainase, sisa lumpur yang menempel di roda-roda truk, kendaraan yang semakin rame dan kebut-kebutan, dan aneka kesemerawutan lainnya. kalau hal ini dibiarkan niscaya hidup kita akan tertekan dan stress terus-terusan, untuk itu dibutuhkan pengelolaan psikis dan sikap untuk menjaganya.
       Sikap dasar manusia memang selalu menginginkan yang lebih baik dan lebih nyaman, hal itu kadang berpengaruh kepada rasa syukur kita sehari-hari. Diberikan A minta B, dapat C mau D dan seterusnya, hal itu juga dapat terjadi sebagaimana gambaran jalan rusak tadi, proses perbaikan jalan dilakukan secara bertahap sampai tiga step, ketika hampir separuh perjalanan semuanya rusak, gambaran detailnya sebagaimana penulis ceritakan di atas, namun setelah step kedua dikerjakan, bukan ditanggapi dengan rasa syukur, namun perhatian kita tetap pada sisa jalan yang belum diperbaiki, fokus masalah kita beralih kepad sisa-sisa yang masih rusak dibanding dengan lebih mensyukuri jalan yang telah diperbaiki.
       Hal itu sangatlah wajar, manusiawi, namun tentunya hal itu bisa kita tata dan sikapi dengan bijak bermodalkan akal yang telah diberikan kepada kita, sikap mausiawi jangan dijadikan alasan untuk tidak bersyukur pada apa yang telah diberikan oleh Allah kedada kita,
       Mari kita lihat potensi alam di sekitar kita untuk dapat dimanfaatkan sebagai ladang untuk bersyukur kita kepada Sang Pencipta agar nikmat dan rezeki kita tetap dan terus bertambah.
Wallau’lam ….

Selasa, 02 Januari 2018

Ngaku Kreatif?, 9 Alat Kreatifitas Ini Harus Kamu Punya .....

        

        Setiap orang ditakdirkan dengan bakat kreatifitas yang berbeda-beda, bagi kamu yang memiliki kretifitas tingkat tinggi, pasti akan mampu mengolah benda-benda di sekitar untuk dijadikan benda baru dengan fungsi baru, sekedar mengisi waktu-waktu senggang memanfaatkan barang-barang bekas yang sudah tak terpakai.
       Namun bukan hanya kreatifitas saja yang menjadi modal utama, alat-alat yang digunakanpun cukup membantu menyulap bahan bekas yang menjadi limbah dan sampah menjadi barang-barang berguna dan memiliki nilai seni yang tinggi, apa saja alat yang dibutuhkan untuk mengeksekusi barang tak terpakai di sekitar kita? _Yuk_ kita dalami;
Gunting
Satu alat ini berfungsi untuk memotong barang-barang yang tidak terlalu tebal, seperti kardus, kain, kertas dan barang sejenis lainnya, penggunaannya lebih gampang dari _cutter,_ akan tetapi masing-masing memiliki fungsi yang berbeda-beda.
Jarum Pentul
Alat satu ini digunakan untuk mengunci sisi sementara untuk mempola sisi lain sesuai dengan yang dikehendaki, alat ini hanya khusus digunakan pada benda lunak yang bisa ditembusnya seperti kain, gabus, _styrofoam_, busa, kertas dan benda-benda lain sejenis, pengunaannya yang ringan, memiliki pentulan yang beraneka warna dan mudah didapat menjadikan benda tajam ini banyak dipakai dalam menciptakan sebuah kreatifitas.
Selotip
Alat berikutnya yang mendukung kreatifitas kamu adalah selotip, dengan berbagai ukuran yang dimiliki, penggunaannya dapat disesuaikan dengan bahan baku obyek olahan, selotip besar bisa digunakan untuk kardus, triplek, kayu tipis, kaca dan benda sejenis lainnya, sedangkan untuk ukuran yang kecil dan sedang dapat digunakan pada obyek-obyek kecil dan tipis seperti kertas karton, manila, plastik, dan lainnya, pemakaian yang mudah menjadikan barang tersebut banyak dilirik oleh para kreator untuk membantu menyelesaikan pekerjaan seninya, apalagi selotip sekarang juga hadir dengan beraneka warna yang menarik, jadi selain digunakan untuk merekatkan antara obyek, kulit luarnya juga bisa digunakan sebagai asesoris penghias.
Staples
Alat pelekat yang menggunakan bahan dasar dari besi ini juga banyak digunakan oleh para kreator untuk mengolah bahan bakunya menjadi benda kerajinan, staples tidak hanya dipakai pada bidang kreativitas saja, tapi alat ini lebih banyak digunakan di kantor terutama di bagian administrasi, ada dua jenis staples yang sekarang banyak dipakai, yaitu staples mini dan ada pula staples tembak, khusus yang terakhir umumnya dipakai untuk obyek yang lebih besar, tebal dan keras.
Lem
Alat satu ini juga kudu dimiliki sebagai pelengkap _instrumen_ kreatifitas pengolah bahan-bahan. Berfungsi sebagai alat perekat dengan media yang beragam mengikuti bentuk dari kegunaan lem tersebut. obyek sasarannya pada benda-benda seperti kertas, plastik, kain dan bahkan kayu, harganyapun berfariasi dari yang murah sampai yang mahal.
Benang
Media ini hanya digunakan pada obyek-obyek tertentu saja, semisal kain _flanel_, perca dan sebagiannya, kadang media kertas juga didapati menggunakan alat ini, fungsi utamanya sebagai alat penyambung, namun kadang juga difungsikan sebagai bahan penghias seperti bordil. bahan dasar yang banyak dijumpai pada tempa-tempat konfeksi ini juga memiliki aneka warna yang menarik, jadi andaikan mampu mengkolaborasikan berbagsi warna pada benang pasti akan dapat tercipta sebuah karya yang cantik dan menarik.
Cutter
Selain gunting, alat pemotong yang juga tak kalah pentingnya adalah _cutter_, digunakan pada media-media yang agak tebal saat gunting tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya menjadi alat pemotong, seperti saat memotong dengan media yag memiliki ketebalan tertentu, maka _cutter_ menggantikan posisi gunting sebagai alat pemotongnya.
Penggaris
Alat yang identik dengan dunia sekolah ini juga merupakan salah satu _instrument_ bahan kreatifitas yang banyak terpakai, berfungsi sebagai alat pembantu pelurusan pada media, memiliki beragam bentuk seperti lurus, melingkar, sudut dan bentuk lainnya menjadikan dia dipilih untuk memenuhi fungsinya sebagai pengolah bahan-bahan berkreativitas.
Bor
Satu lagi alat yang tidak boleh terlewat dalam hal menciptakan barang lama berfungsional baru, yang berfungsi sebagai alat perekat layaknya staples, lem dan jarum, yaitu bor, akan tetapi bor ini hanya digunakan pada media-media tebal dan keras seperti kayu, tembok, balok, beton, seng dan sejenisnya, karena memiliki fungsi demikian, benda satu ini dapat dibeli dengan harga yang agak mahal dibanding dengan alat–alat kreatifitas lainnya.
Bagaimana? Masih _ngaku_ orang kreatif kalau alat-alat diatas mesih belum kamu miliki.
Wallahua'lam .....

Senin, 18 Desember 2017

Mencetak Jejak Pertamaku



Bismillah.
hari ini penulis mengikuti angan-angan yang mengganjal selama ini, penyaluran tentang hobi menulis yang sebelumnya belum memiliki wadah resmi dan hanya dapat penulis salurkan pada group WA yang penulis miliki, terkadang penulis merasa khawatir terhadap respon anggota group yang penulis kirim, mungkin ada yang jengkel dan murka kala ada yang mengupload tulisan seperti cakar ayam, susah dipaham, ngelantur dan tidak bisa ditemukan kesimpulannya. ah biarlah, abaikan itu semua yang belum tentu kebenarannya, gumam penulis dalam hati untuk menghibur diri.

Sebenarnya beberapa teman pernah menyarankan kepadaku untuk menulis di blog saja, namun karena kesibukan (yang belakangan penulis rasakan hanyalah sebagai alasan saja) menulis di blog seolah menjadi mustahil, selain belum memiliki blog secara pribadi, penulis juga belum mampu untuk mengoperasikannya.
Setelah mengalami pergulatan penuh, ahirnya penulis memutuskan untuk belajar membuat blog secara outodidak, dan akhirnya jadi juga, seperti yang ada saat ini.
keinginan penulis untuk menjadi seorang penulis di blog (blogger) sebetulnya mulai muncul setelah banyak mencari cara atau tutorial membuat blog, tapi ternyata terbawa pada blog milik beberapa blogger yang memiliki latar belakang yang bergam dan menarik menurut penulis, ada yang berasal dari keprihatinan seorang guru kepada dunia bloger, ada yang memilih resaind dari jabatan karyawan kantor yang cukup mapan sehingga beralih menjadi blogger penuh waktu dan motif blogger lainnya yang cukup menginspirasi penulis, untuk menyemangati kegemaran menulis, penulis bahkan sampai memasang poter tulisan yang lumayan gede yang ditempel di tembok untuk menyemangati penulis setiap hari, penulis yakin, pada suatu hari akan terwujud mimpi untuk menjadi bagian dari blogger Indonesia.
beberapa hal yang memotifasi penulis untuk menjadi seorang penulis pernah dilakuakna, diantataranya:
Membca Web
Banyak web yang aku kunjungi untuk mencari tips menjadi seorang penulis pemula, namun semua isinya sama, kalau ingin mejadi seorang penulis harus banyak latihan, latihan dan laihan, dan sesegera unutk menulis, tidak hanya membaca kiat-kiatnya saja, hanya dengan itu kemampuan menulis akan terasah, selain dituntut peka terhadap segala hal yang ada di sekitar kita, benyak membaca buku juga harus rutin untuk dilakukan,
Berlangganan Email
Penulis pernah terbawa pada suatu web yang kemudian di dalam web tersebut ditawarkan untuk bergabung, peserta akan diberikan materi secara rutin dan berkensinambungan via email, penulis tertarik dalam rangka untuk memotifasi semangat menulis, dan langsung mendaftarkan diri, karena kemauan menulis mengalami fluktuatif,  email yang pernah dimasuki sampai tidak ingat nama tutor dan juga alamat webnya, namun semua materi via email yang dikirim selalu terbaca dan berupaya untuk penulis kembangkan dan lakukan.
Mencari Tokoh Idola
Dalam seuah  buku, penulis pernah membaca bahwasannya untuk menyemangati apa yang menjadi keinginan kita, kita harus mencari idola yang dapat menjadi penyemangat dari idola kita, apa yang ia lakukan bersegera untuk diikuti jejak-jejaknya, yang pernah ia lakukan juga harus kita ikuti kalau ingin menjadi seperti mereka, tatkala kemalasan dan semangat menurun, kita perlu untuk memandangi profil serta prestasi-prestasi mereka, sehingga kesemangatan menulis kita akan muncul kembali, memang sebagai penulis pemula kita pasti akan mengalami semangat yang naik turun, ketidak setabilan tersebut merupakan hal yang biasa dan banyak dialami oleh penulis pemula lainnya, apalagi kalau ditengah-tengah penggarapan ide bagus dan fresh saat awal tiba-tiba mati gaya ditengah-tengah, aduh .... rasanya ingin meninggalkan hobi ini deh ...
Wallahua'lam

Minggu, 17 Desember 2017

Menyibak Hikmah Dibalik Tradisi Tahlil


    Terdapat banyak kegiatan yang berlaku di tengah-tengah masyarakat nahdliyin yang sampai saat ini masih dilestarikan, diantaranya adalah ritual tahlil, kegiatan khusus yang rutin dilaksanakan setiap malam Jumat dan yang bersifat insidentil kala ada hajat-hajat tertentu, ses-sesi kirim doa pada hari ke-7, ke-40, ke-100 hari kematian atau tepat setahunnya (haul), sepasaran, pernikahan bahkan kini mulai mewabah pada kegiatan ulang tahun.
      Tahlil terlaksana dengan cara shohibul bait atau pemilik hajat mengundang beberapa orang tetangga ke rumah untuk diminta membacakan kalimat-kalimat thayibah yang dipimpin oleh tokoh agama setempat atau imam yang telah ditunjuk oleh pemilik hajat, dan setelah acara selesai ditutup dengan acara ramah tamah sekaligus pemberian sedekah kepada peserta jamaah berupa sepaket nasi komplit beserta sayur dan lauknya, tak ketinggalan sekotak aneka jajanan dan snack.
       Walupun kini pelaksanaan tahlil sudah jarang dilakukan di daerah urban, akan tetapi di kampung-kampung masih banyak dijumpai aktifitas yang kini mulai diusik oleh kelompok-kelompok tertentu karena dianggap bid’ah, tidak berdasar atau mengada-ada, Rasulullah tidak pernah melakukan aktifitas tersebut, hujjah mereka, sungguh naif, padahal andai kegiatan tersebut kita telisik lebih dalam, memiliki beragam hikmah dan manfaat, diantaranya adalah;
Media kirim doa
       Diantara alasan banyak muslim nahdliyin tetap melestarikan tahlil adalah dikarenakan mereka memiliki hajat yang ingin tersampaikan, yaitu mengirim doa pada orang tua, famili atau kerabat yang telah wafat, karena diyakini salah satu media yang digunakan adalah dengan melakukan ritual tersebut, terkadang doa yang ingin disampaikan tidak hanya pada orang yang telah meninggal, tapi juga tujuan-tujuan lain seperti percepatan pencarian pekerjaan atau jodoh, pembukaan acara-acara besar dan acara lain yang pada intinya adalah media untuk penyampaian pahala dari kebaikan pembacaan kalimat-kalimat tayyibah yang telah terangkai dalam susunan ratib tahlil.
Sarana penyalur sedekah
       Selain untuk pengiriman doa, tahlil juga digunakan untuk sarana penyaluran sedekah, jamuan yang dilakukan oleh pemilik hajat tentunya digunakan untuk penghormatan kepada orang-orang yang telah diundang, selain untuk “mengganti” kerelaan mereka untuk hadir dan keikhlasan mereka dalam pembacaannya, penyaluran hidangan konsumsi juga memiliki nilai sedekah yang lagi-lagi pahala dari sedekah tersebut juga akan disampaikan pada tujuan diadakannya tahlil tersebut.
       Tingkat besarnya pahala yang tersampaikan akan menyangkut kualitas dari keikhlasan berbagai pihak, antara pemilik hajat, imam tahlil dan tentunya peserta jamaah, pemilik hajat dituntut keikhlasannya untuk ditempati dan pengeluaran sedekahnya, sang imam dituntut keikhlasannya dalam memandu acara mulai dari awal hingga selesai, dan peserta jamaah dituntut keikhlasannya untuk mengikuti imam dalam pelafalan bacaan-bacaannya, tentu hal ini akan menghasilkan mutu keikhlasan yang beragam, selain latar belakang, mereka juga memiliki tujuan-tujuan yang beraneka ragam.
Tempat bersosialisasi
       Orang-orang yang terbiasa mengikuti kegiatan rutinan tahlil dapat dipastikan memiliki sifat sosial yang tinggi, intensitas pertemuan antar peserta menghantarkan mereka pada label manusia sosial, ajang sharing tentang berbagai topik, mulai dari obrolan ringan sampai pada yang tergolong berat seperti pekerjaan, pendidikan, kasus aktual, dan isu-isu hangat lainnya, semua tertumpah ruah dalam satu kegiatan tersebut, peserta yang memiliki tipikal introvert, pendiam, pemalu atau individual level atas bisa mengasah jiwa sosialnya melalui kegiatan ini, karena mau tidak mau mereka akan berbaur menjadi satu dengan peserta yang lainnya pada sesi-sesi pra atau setelah acara.
Wadah organisasi 
       Selain memiliki kelebihan sebagaimana tersebut di atas, kegiatan tahlil juga identik dengan kegiatan organisasi, struktural kepengurusan yang menjadi ciri khas organisasi juga terbentuk di dalamnya, mulai dari ketua atau pimpinan jamaah, sekretaris, bendahara dan humas, jamaah-jamaah tersebut juga memiliki uang kas yang dapat digunakan untuk kepentingan organisasi itu sendiri ataupun kegiatan sosial lain di luar organisasi. rapat atau musyawarah antar pengurus dan anggota juga sering dilakukan baik bersifat rutin maupun kondisional, mereka memiliki peran-peran tersendiri dalam menjalankan roda organisasi tahlilan tersebut.
Survivor kultur
       Kegiatan tahlil yang berfungsi sebagai media pengiriman doa dengan pembacaan ayat-ayat dan kalimat-kalimat thayyibah yang telah berlaku merupakan warisan para ulama penghulu kita, kita sebagai penerus tentunya harus bisa melestarikan serta menjaganya agar tidak tergerus oleh masa dan generasi, pelaksanaan secara rutin merupakan bentuk apresiasi kepada para ulama yang tidak mudah dalam merintis kegiatan dimaksud. Kita juga harus bisa mengajarkan kepada generasi penerus kita sejak mereka belia, dengan cara diperkenalkan kapada tradisi tersebut, entah dengan mengajak mereka saat acara-acara tertentu atau dengan memberikan penjelasan kepada mereka tentang manfaat serta kegunaannya. Sehingga mereka terjaga dari faham-faham yang mengatakan kalau tahlil merupakan perbuatan sesat.
Bukti penghormatan
       Sebagaimna disampaikan dimuka, bahwasannya acara tahlil biasanya dengan mengundang tetangga sekitar atau kerabat dekat, dengan cara ini pelatihan serta pembuktian tentang toleransi antar tetangga memang benar-benar terasah, karena pada waktu tertentu giliran kita yang undang mereka untuk acara sejenis, kehadiran kita untuk memenuhi undangan merupakan sebuah penghormatan yang tiada tara, karena memang tujuan utama dari kegiatan tersebut adalah dengan mendatangkan kita untuk dimintai kerelaannya membacakan ratib tahlil untuk hajat mereka.
       Dengan demikian, mengapa kita masih ragu serta goyah ketika ada beberapa kelompok yang menghujat kalau tahlil adalah sesat, bid’ah dan amalan yang tidak diajarkan Nabi, padahal dibalik aktifitas tersebut tersimpan sarat hikmah dan kemanfaatan yang dapat dipetik oleh banyak orang. wallahua’lam. Yusuf Hamidi, (e-mail : zusuv.hamidi@gmail.com)

Minggu, 16 Juli 2017

Tak ada yang Ingin Menjadi Pemalu


        Dalam kehidupan social bermasyarakat, terdapat beragam karakter dan sifat yang dimiliki manusia, ada yang supel, pendiam, ceria, melankolis, ekstrovert, introvert dan tipikal-tipikal lainnya, diantara yang termasuk bagian dari itu adalah sifat pemalu yang dimiliki seseorang.
       Memang, banyak nilai kurang yang dimiliki seseorang dengan karakter pemalu walaupun terdapat juga kelebihannya, akan tetapi dalam pergaulan sehari-hari, individu ini selalu di posisi buncit dan terbelakang, hal itu bisa dipandang baik dari orang lain maupun si empu itu sendiri.
       Prespektif orang lain menganggap seorang pemalu adalah tipikal orang yang sulit untuk diajak berkomunikasi, kurang menyenangkan dan kurang bisa mencairkan suasana, tidak pernah mengawali pembicaraan dan hanya menjawab dengan jawaban sepotong-sepotong dan garing, sehingga saat diajak bekerja secara tim sangat menyulitkan yang lain, rekan yang bertipe ekstrovert terkesan menjauh dengan mereka karena kurang adanya kecocokan.
       Prespektif si empu beragam, ada yang tidak nyaman dengan karakter demikian dan mencoba untuk berubah serta keluar dari kungkungan sifat pemalu, ada juga yang menikmati karakter pemalu tersebut dan tiada upaya untuk keluar dari zona aman tersebut. kajian tentang individu yang kedua dianggap tidak perlu karena bagaimanapun ia tetap kukuh dengan sikap bawaannya tersebut, gejala muncul saat berfokus pada individu pertama, yakni pemilik sifat pemalu akan tetapi ada upaya untuk berubah karena mungkin ia merasa banyak sekali keterbatasan-keterbatasan yang dihadapi, banyak kesempatan dan peluang yang terlewatkan hanya karena malu, ada beberapa alternative kegiatan yang bisa digunakan untuk melatih sikap berani :
1.    Gabung pada kegiatan organisasi
     Salah satu cara mengembangkan sikap berani adalah bergabung dengan kegiatan organisasi, walaupun pada awalnya hanya sebatan ikut-ikutan sebagai anggota tanpa terlibat dalam struktural kepengurusan, momen ini dapat dijadikan sebagai teladan atau model karakter yang perlu untuk diikuti dan dicontoh. Amati serta sedikit demi sedikit praktekkan segala sikap dan action para pimpinan dalam organisasi tersebut dengan tetap semangat untuk belajar.
2.    Terlibat dalam team work
     Prinsip kerja team work adalah semua menjadi anggota, semua menjadi pelaksana, walupun tetap diangkat kapten didalamnya, dengan mengikuti aktifitas semacam ini, semua karakter akan terasah karena keutuhan tim sangat dibutuhkan, sehingga sikap pemalu tanpa tersadar akan terkikis. Dan sedikit demi sedikit melalui proses keberanianpun akan mulai tumbuh.
3.    Mencari tokoh idola
     Tentukan tokoh yang dapat memberikan inspirasi, pelajari apa tindakan-tindakan yang mereka ambil ketika berhadapan dengan situasi yang sama, dan jangan lupa untuk mempraktekkan dalam segala aktifitas sehari hari. Tokoh yang baik bisa diikuti sisi positifnya, dan tokoh yang buruk juga bisa dicontoh untuk tidak diikuti, karena siapapun orang yang ada disekitar kita pasti ada kelebihan yang dapat kita suri tauladani.
4.    Banyak baca buku pengembangan diri
     Banyak sekali buku-buku yang bertemakan pengembangan diri, perbanyak referensi tentang buku senada, dan sekaligus mempraktekannya, selain memperluas wawasan, manfaat dari membaca buku ini pun banyak sekali, apalagi kalau tema yang sama dibaca secara intens, maka bisa jadi proses itu akan mambawa kepada ke-expert-an.
5.    Jaring saran dan kritik
     Jangan mudah marah kala hujatan dan kritikan datang menerpa, pelajari apakah benar vonis yang diberikan, kalau memang benar, segera tentukan langkah untuk memperbaikinya, namun jika tidak benar, klarifikasi dan buktikan kalau tuduhan itu tidak benar, kadang kala memang tanpa tersadar banyak aktifitas dan prilaku kita yang kurang baik dan memberikan rasa tidak nyaman kepada orang lain, nah orang lain merupakan kaca cermin yang cocok untuk melihat balik bagaimana sebenarnya perangai kita, meski tidak semua tuduhan yang dilontarkan kepada kita semuanya benar, minimal bisa kita jadikan bahan masukan, sikapi degan bijak, hanya ada dua pilihan dan itu semuanya terserah kita, batu yang mengahalang bisa dijadikan sandungan dan kita terjatuh atau jadikan batu loncatan untuk kita tumbuh.
6.    Dipaksa
     Setelah langkah-langkah diatas dilampaui. Core dari itu semua adalah praktek, praktek dan praktek, karena karakter pamalu berkaitan erat dengan sebuah tindakan nyata, perlu adanya pemaksaan untuk menjalankan aksinya, memang terkadang sulit dan tidak nyaman pada fase awal, akan tetapi ketidak nyamanan tersebut meruapakan efek dari perubahan sikap pemalu menuju pemberani dan supel. Wallahua’lam

Nepotisme yang tak Kolusi

          Dalam interaksi sehari-hari, masyarakat Indonesia seolah tidak pernah terlepas dari kegiatan penyimpangan, tindakan yang tidak sesuai dengan prosedur seolah-olah sudah menjadi sego jangan disekitar kita, baik di lingkungan rumah, sekolah, tempat kerja terlebih di lingkungan birokrasi pemerintah.
            Dalam kenyataannya, kejadian semacam itu banyak kita jumpai di sana sini, ingin masuk perusahaan kalau tidak ada orang yang dikenal di dalamnya bisa dipastikan tidak akan bisa masuk kecuali dengan menggunakan media pelicin berupa uang, rangkaian proses perekrutan pegawai berupa tes, wawancara dan lain sebagainya hanya bersifat formalitas belaka, masuk sekolah bonafid, banyak yang mengandalkan kongkalikong antara pihak penyelenggara dengan orang tua, jika ada rekan, teman, sahabat atau saudara didalamnya, dapat dipastikan akan dengan lancer masuk didalamnya. Dan masih banyak praktik-praktik serupa lainnya.
            Berbagai pihak sudah merasa terbiasa dengan praktek demikian, kalau tidak menginginkan keluar uang dalam rangka kolusi dengan menyogok petugas, berarti harus memanfaatkan kecurangan lainnya yaitu nepotisme, hal itu ditempuh jika terdapat beberapa orang terdekat di obyek yang dituju. Dalam artian meninggalkan kolusi dan beralih ke praktek nepotisme.
            Hal demikian ditempuh demi dan untuk kepentingan masing-masing, karena jika pilihan itu tidak diambil, maka tujuan-tujuan dari kedua belah pihakpun tidak akan tercapai, ibarat kata menjalankan praktek simbiosis mutualisme yang berkonotasi negatif, sama-sama saling menguntungkan, pihak luar berharap bisa diterima dengan mudah dan pihak dalam menjalankan jabatannya demi mendapatkan ceperan dari pihak luar selain gaji pokok, jadi ada transaksi setuju sama setuju didalamnya.
            Pertanyaan mengemuka, mengapa alternatifnya hanya dua?, kolusi atau nepotisme. mengapa tidak dimunculkan pilihan berganda lainnya, dengan kompetensi misalnya, atau dengan kejujuran serta loyalitas yang solid, komitmen yang tinggi juga bisa dimasukkan dalam daftar berikutnya, tapi lagi-lagi masyarakat lebih banyak yang memilih dengan pembatasan alternative dua diatas, karena apa?, karena hanya ada satu jawabannya, tidak mau sulit dan susah menjalani prosesnya, enggan mengasah kemampuan yang mungkin juga banyak mengeluarkan upaya, daya, waktu dan dana. maunya instan, mudah, ekonomis, tidak keluar keringat dan tidak ribet.
            Kalau sudah demikian, sangat sulit rasanya mengentaskan negeri ini dari praktik menyimpang, kebiasaan ini seolah sudah mendarah daging pada semua lapisan masyarakat. Butuh komitmen bersama untuk menghilangkan praktek tidak terpuji ini, kalau semua bisa berkooperasi dengan baik, maka kemurnian perbuatan serta kebersihan tindakan merupakan sebuah keniscayaan. Wallahua’lam.


Aku Rindu Bapak



Over Protective
          Sebenarnya aku muak dengan segala aturan rumah yang dibuat oleh Bapak, walau tak tertulis, tapi semua anak-anaknya harus mengikuti kode etik itu semua, aku, adik perempuanku dan si bungsu, kerap kali aku menangis sesenggukan di kamar seorang diri, merasakan “kejam” dan ketatnya aturan rumah, secara itu semua bertentangan dengan kebiasaan dan karakter lazimnya anak ABG seusiaku, penuh hormon dan hobi berkumpul sama teman-teman sebaya. Pernah suatu hari aku tanya motif dibalik itu semua, “kamu akan mengerti sendiri kelak” jawabnya dengan dingin, pengekangan yang menurutku terlalu, banyak membuat aku menjadi pribadi remaja yang tertutup, kuper dan jadul kala berkumpul dengan teman-teman setelah shalat berjamaah di musholla samping rumah, kadang untuk menghibur itu semua aku hanya mengeluh pasrah dalam hati, semoga ada hikmah di balik ini semua ….
Single parent
        Sepeninggal ibu, Bapak berjuang sendirian mengasuh dan membesarkan anak-anaknya seorang diri, aku yang masih duduk di kelas lima SD masih terlalu kecil untuk bisa diajak bersama memenuhi segala kebutuhan keluarga, dengan profesi sebagai petani yang menggarap sawah 1 lokasi yang tidak cukup luas, Bapak mencoba untuk menutup dan memenuhi semua kebutuhan kami sekeluarga, mulai dari makanan, pakaian dan pendidikan, masih sangat teringat jelas ketika Bapak hendak pergi ke sawah menyempatkan diri untuk membuat sarapan untuk kami semua ala kadarnya sebagai bekal untuk berangkat sekolah, dengan alasan agar uang saku sekolah tidak terlalu banyak, kadang adik juga marah-marah menghadapi keadaan ini, tapi aku mencoba untuk membujuknya, Bapak hanya terdiam merasa tak kuasa untuk memberikan lebih kepada anak-anaknya, aku cukup mengerti dengan kondisi kelauarga saat itu, sehingga aku bisa legowo menerima keadaan ini, semoga ada hikmah dibalik ini semua ….

Menjunjung pendidikanku
          Walau beliau tidak pernah mengenyam dunia pendidikan tingkat lanjutan, tapi layaknya seorang Bapak pada umumnya, beliau memiliki harapan besar untuk menyekolahkan anak-anaknya ke tingkat yang paling tinggi, terbukti sampai saat ini saya tengah mengenyam dunia s2 dan si bungsu bulan ini diwisuda s1, hanya adik perempuan saya saja yang berakhir di pendidikan setingkat SMA, selain kurang minat, ia juga keburu menikah dengan lelaki yang dikenalnya selama sekolah, Bapakpun menentukan target pada adik perempuanku, harus lulusan pesantren, karena memang aku dan si bungsu setamat SD langsung dimasukkan Bapak ke pesantren walau sebenarnya kami agak keberatan. Tapi untuk adik perempuanku memang kurang berminat melanjutkan ke dunia pesantren, jadi minimal menantu Bapak yang harus jebolan pesantren agar bisa membina adik perempuanku. semoga ada hikmah dibalik ini semua ….

Bangga dengan kesuksesanku
          Walau kadang menjengkelkan, sikap Bapak yang lebay ketika prestasi yang kuperoleh aku ceritakan ke beliau, dengan maksud untuk mencari arahan dan sekedar sharing ke beliau sebenarnya, tapi Bapak selalu menceritakan keberhasilan itu ke orang-orang disekitarnya dan aku melihat ada perasaan bangga di raut wajah Bapak kala dengan ekspresif menceritakan kesuksesan yang aku capai, tidak berlebihan memang, secara seorang petani kampung yang berpendidikan rendah tapi bisa menyekolahkan anak-anaknya yang terbilang cukup tinggi seukuran lingkungan desa tempat kami tinggal. Inikah hikmah dibalik semua peristiwa itu …

Kini telah jauh
          Kini aku tak serumah lagi dengan Bapak, Bapak sekarang tinggal berdua dengan ibu tiriku, adik perempuanku juga sudah memiliki rumah sendiri, adik bungsuku juga masih menetap di asrama pesantrennya, setiap bulan aku sempatkan untuk menjenguknya dan mengobati rasa kangennya pada putriku, cucu keduanya. Beliau kelihatannya sudah puas dan lega karena telah membekali anak-anaknya tidak dengan harta berlimpah, tapi dengan ilmu-ilmu yang beliau berikan lewat pendidikan di sekolah sebagai manual book menapaki mahligai rumah tangga dan kehidupan kita, inilah hikmah dari kejadian peristiwa yang pernah Bapak ajarkan dan tetapkan kepada kami semua ….
          Bapak … aku akan selalu merindumu dengan sepuluh kekuranganmu dan berjuta kelebihanmu, I love u forever my dad ….