Rabu, 18 Agustus 2021

4 SKILL YANG HARUS DIKUASAI MILLENIALIS

Zaman kian hari kian berubah dengan support teknologi yang mengiringi dinamisasi kehidupan kini. Masyarakat dewasa ini semakin cerdas dengan perkembangan IT yang menyentuh segenap sendi kehidupan, butuh skill yang baik untuk menjalaninya terutama bagi anak muda yang kelak akan mengisi serta melanjutkan estafet kehidupan berikutnya. 


Agar tidak terkaget menghadapi gaya hidup yang serba instan dan canggih ini, dibutuhkan beberapa skill yang menjadi modal anak muda agar ia tidak hanya bisa survive, namun juga bisa sukses menaklukkan deras dan kerasnya laju kehidupan. 


1. Desain Grafis

Dominasi teknologi mewarnai kebutuhan dan lifestyle masyarakat, menjadikan skill ini menyedot perhatian sebagian besar warga butala untuk memenuhi hajat mereka. 


Berbagai momen dan giat digelar dengan memanfaatkan teknologi sebagai pendukungnya, tidak hanya itu, aneka acara itu juga membutuhkan penyampaian informasi dengan epik dan menarik. Pada titik ini, skill desain grafis yang mengandalkan kemampuan seni tinggi menjadi penting. Sebuah kompetensi yang lekat dengan kehidupan dan potensi anak muda, desain grafis pantas dan layak untuk dikuasai.


2. Literasi

Arus global menuntut kecerdasan lebih bagi masyarakat, terlebih kaum akademik. Kemampuan membaca, menulis, menganalisis, memprediksi dan sebagainya menjadi skill harian yang harus dikuasai. Segenap aktivitas juga membutuhkan itu sebagai wahana pengembangannya, anak muda juga berperan penting di sini sebagai user dan penggerak peradaban yang sarat akan atomatisasi ini. 


3. Kreativitas

Ijazah dan IPK bukan lagi menjadi takaran utama mengukur skill anak muda saat ini. Ya, Kreativitas merupakan kompetensi yang harus dikuasai para anak muda. Karakter yang masih original dan fesh menjadi modal utama kaum kekinian mengendalikan pergerakan kehidupan dengan amunisi kreativitas tadi. 


4. Humanis

Selain beberapa skill yang cemerlang di atas, kemampuan sosialisi kaum yuwana juga amat dibutuhkan, the power of team menjadi komitmen yang harus dipegang teguh agar tetap terlihat profesional. 


Untuk itu wahai anak muda, jangan tertinggal, Mari jadikan hari ini wahana belajar mengasah berbagai skill sebagai bekal menyusuri hidup yang kian berlari makin cepat.

INI DIA, 7 HAL PENJAGA MOOD DI PAGI HARI

Ada sebuah pemeo mengatakan kalau mood seseorang itu bisa ditentukan dari bagaimana perasaan orang tersebut di kala pagi hari. Bagaimana suasana hati seseorang antara bangun tidur hingga pukul 10 pagi, adalah gambaran dari seluruh hari yang akan ia jalani. 


Lalu, bagaimana menjaga mood di pagi hari agar hari-hari mu menyenangkan dan tidak diliputi rasa gundah dan badmood? Ini dia di antara caranya, simak baik-baik ya dan penting untuk dicoba. 


1. Bangun sebelum shubuh

Banyak tokoh terkenal yang memanfaatkan waktu sebelum shubuh untuk melakukan hal-hal yang inovatif. Waktu yang tenang, pikiran yang masih fresh, dan tubuh yang masih segar dapat menjadi modal merancang agenda mau melakukan apa saja hari ini. 


Waktu sebelum shubuh juga bisa digunakan untuk brain storming ide ide baru dan brilian semua program yang hendak dijalankan, jika mood sudah bagus, tinggal eksekusinya di siang hari. 


2. Bersyukur

Saat bangun tidur, jangan langsung beranjak dari tempat tidur, berhenti sejenak, syukuri masih diberikan kesempatan untuk menjalani kehidupan. Pejamkan mata dan rasakan energi positif masuk ke semua tubuh. 


Sembari memejamkan mata, niatkan dalam hati, hari ini akan banyak melakukan kebaikan, membantu orang lain yang sedang dalam kesulitan, dan membuang jauh semua hal negatif dan merugikan. Aktivitas ini akan bisa membantu jalan pikiran sehingga dorongan energi positif akan mempengaruhi suasana hati jadi lebih baik. 


3. Minum air putih 

Selepas melakukan ritual sederhana di atas, maka lanjutkan dengan banyak minum air putih semampunya. Sehabis tidur, badan membutuhkan asupan air yang cukup banyak setelah semalaman tidak terisi, untuk mencegah dehidrasi, maka minum air sebanyak nya menjadi solusi. Sebelum tidur, siapkan air putih di dekat tempat tidur agar saat bangun tidak sulit meraihnya, di sini minum air putih hangat sangatlah disarankan. 



4. Olahraga

Olahraga menjadi penting untuk dilakukan secara rutin setiap hari meski hanya 15-30 menit terlebih di masa pandemi seperti ini. Segarnya tubuh setelah olah raga akan menjadikan perasaan dan pikiran kita fresh kembali, hasilnya mood kita akan menjadi lebih baik. Jika sudah demikian, menyusuri hari-hari akan jadi lebih bersemangat dan kesuksesan pun akan datang mendekat. 


5. Baca berita

Suasana pagi yang sejuk dan segar akan mencipta suasana nyaman di pikiran. Kebeningan ini akan sangat suport jika digunakan untuk aktivitas membaca. Dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, membaca kini bukan menjadi hal yang sulit, karena semua sudah tersedia di gawai yang Kita miliki. 


Topik yang dibaca bisa apapun sesuai dengan kegemaran Kita, semisal politik, pendidikan, budaya, art, hobi, gaya hidup dan ragam tema lainnya. Jika aktivitas ini terus menerus dilakukan, selain menambah wawasan juga akan mampu mewarnai perjalanan hari-hari Kita. 


6. Bersih-bersih

Waktu pagi juga sangat bagus jika digunakan untuk rutinitas bersih-bersih. Selain tempat tinggal menjadi lebih bersih dan sehat, aktivitas ini juga bisa menciptakan rasa puas dan nyaman baik pikiran dan perasaan. Rasa nyaman ini yang kemudian mampu menarik energi positif sehingga berpengaruh terhadap mood kita di pagi hari. 


7. Mendengarkan Musik

Terakhir, segenap aktivitas di atas bisa dilakukan sembari diiringi musik yang mangalun, pilih lagu dengan beat cepat untuk menambah semangat bekerja. Sesekali juga perlu diputar lagu favorite kamu agar hari mu jadi lebih menyenangkan.

Rabu, 22 April 2020

MELIBATKAN DIRI PADA KEGIATAN KEMASYARAKATAN


Beberapa waktu yang lalu, saat penulis hendak pergi menjenguk saudara ke pondok pada sore hari, penulis melewati depan kantor desa, dan kebetulan di sana ada salah satu guru PNS kenalan saya yang sedang jaga siaga covid 19, seketika pemandangan itu seolah membentak hati penulis, "Kenapa kamu tidak terlibat di sana?". padahal profesi serta latar belakang pendidikan juga hampir sama.

Sampai beberapa waktu berikutnya, penulis merasa gelisah dengan bentakan itu, entah mengapa tidak seperti biasanya, rasanya untuk kali ini betul-betul membuat hati dan pikiran saya terhentak, "Untuk berikutnya kamu harus ikut". desak penulis dalam hati.

Penulis berketetapan hati, untuk pemilu berikutnya penulis harus benar-benar terlibat minimal di tingkat RT dan RW lingkungan tempat penulis tinggal, entah jadi KPPS atau terjun di Bawaslu nya, yang penting adalah masuk pada bagian dari proses demokrasi tingkat desa.

Rasanya, mulai kini penulis harus banyak melakukan pendekatan-pendekatan terhadap beberapa orang-orang penting dan perangkat untuk mewujudkan impian penulis, apalagi didukung pak RT dan perangkat desa yang cukup aktif juga ada di lingkungan penulis dan termasuk anggota jamaah tahlil yang penulis ikuti, setidaknya satu dua jalan sudah mulai terbuka, tinggal melakukan langkah-langkah selanjutnya.

Selain itu, penulis kayaknya juga harus sering muncul di khalayak ramai, seperti kegiatan-kegiatan baik tingkat RT maupun tingkat desa. Kerja bhakti, acara keagamaan, kondangan bahkan takziyah yang tidak biasa penulis ikuti. Kalau lebih banyak muncul, mungkin orang-orang akan banyak mengenal dan tahu kemampuan penulis bidang apa untuk pengabdian pada lingkungan masyarakat sekitar.

Mencari pengalaman, menjadi faktor utama penulis melibatkan diri pada kegiatan masyarakat, juga sebagai eksplorasi kemampuan terhadap wadah yang benar-benar berbeda dari yang biasa penulis geluti. Selain itu, untuk menambah wawasan dan teman baru dengan bigron dan latar belakang yang berbeda bahkan bertentangan dengan penulis.

Intinya adalah belajar, mengasah kemampuan dan yang lebih ekstrim lagi adalah keluar dari zona nyaman. ya, situasi dan kondisi di mana selama ini penulis cenderung konservatif terhadap kegiatan kegiatan lingkungan yang berbasis kemasyarakatan.

Kemampuan manajerial, literasi dan sedikit publik speaking akan penulis jadikan senjata untuk "menggoda" mereka agar bisa mengajak penulis untuk bergabung pada komunitas yang menyelenggarakan pelayanan masyarakat yang lebih luas ini.

Semoga, .angan-angan dan impian ini Allah mudahkan dengan karakter dan tipikal penulis yang selalu minder, tertutup, tidak pede dan introvert ini, amin.

@myh

Minggu, 19 April 2020

AKU HARUS MENJADI PENULIS HEBAT


Rasa itu saya patri dalam-dalam di lubuk hati, pikiran dan otak bawah sadar saya, setiap hari aku harus menulis, entah bagaimana bentuk yang dihasilkan, setiap hari aku harus menulis, ya, setiap hari.

Hati saya seolah "terlukai" setelah penulis pemula tak berbakat seperti saya dengan penuh harap meminta pendapat untuk dikoreksi pada salah seorang senior, namun yang saya dapatkan hanyalah penghinaan yang merendahkan, tanpa ada masukan, ilmu atau koreksi kontennya. Jika dilihat dari gelagatnya sangatlah tampak sikap meremehkan sebuah karya seorang pemula dengan sedikit tertawa merendahkan.

Sikap timbal balik itu seharusnya tidak muncul dari seorang senior atau guru yang benar-benar mengharapkan akan banyak pemula yang mengikuti jejaknya, kecuali jika ia tidak ingin banyak penulis baru yang ingin belajar menjadi penulis agar ia saja yang menjadi seorang penulis di lingkungannya, jika memang benar demikian, maka kompetensi pedagogik nya sangatlah lemah.

Walhasil, dari permintaan untuk mengoreksi coretan saya dalam bentuk opini melalui japri pada senior yang sudah saya anggap guru tersebut tidak mendapatkan ilmu sama sekali, malahan seperti sabetan pisau tajam yang membuat luka menganga di dalam hati.

Sebenarnya bukan satu atau dua kali saya mengalami hal serupa dengan beliaunya, mulai dari pertama memasukkan beliau ke dalam grup WA menulis yang digagas teman dosen, komentarnya sudah terkesan meremehkan, tiada dukungan atau support yang kita terima, padahal tujuan utama dimasukkan grup agar dapat memberikan koreksi dan arahan bagaimana para pemula ini bisa konsisten dan tidak gampang down saat menulis dan akhirnya mandek. Menutup telinga kami ambil saat itu dan benar saja, grup kita konsisten selama satu bulan bisa menghasilkan minimal satu  "karya" perhari.

Kejadian berulang saat saya dan beberapa rekan mahasiswa dengan iseng mengajukan konsep latihan literasi kepada beliau, lagi-lagi bukan dukungan dan arahan bagaimana agar kami semangat melanjutkan, malah mendapat kritikan pedas dan mementahkan semua konsep dan rancangan untuk melangkah, seketika energi kami langsung surut.

Oke fine, aku harus menjadi penulis hebat seperti beliau, atau bahkan lebih dari beliau, agar nanti jika ada yang mau belajar bareng, saya bisa menjelaskan dengan detail dan rinci apa yang dibutuhkan, sekaligus saya ukur kompetensi dan kemampuan mereka, sehingga konsep yang ditawarkan tidak sampai menjadikan muntah dan sakit karena dosis yang diberikan terlalu tinggi.

Masih banyak teman-teman sekaliber beliau yang juga giat dalam dunia tulis menulis dan mau berbagi ilmu dan semangatnya kepada saya, sehingga kesemangatan untuk konsisten menulis senantiasa terjaga. Mereka kayaknya memiliki prinsip Saya hanyalah ...., Bukan lagi saya adalah ....

Biarlah pengalaman pahit itu saya gunakan sebagai batu loncatan dan cambuk penyemangat untuk menuju pada level yang lebih baik dengan terus semangat belajar dan praktik menulis setiap hari.

@myh

Jumat, 17 April 2020

BAKSO ORA ENAK, Antara Kualitas dan Kuantitas

Turun dari bus jalan raya Nganjuk-Surabaya menuju sebuah halte sebelah stadion Baron, mata saya tertuju pada sebuah kedai bakso di sebelah jalan raya.

Namanya yang unik dan aneh sempat menarik perhatian semua orang. Iya, kedai bakso itu bernama "BAKSO ORA ENAK" tercetak lebar dalam sehelai kain menutupi bagian depan lapak. Karena namanya yang menggelitik, banyak kemudian yang penasaran dan mencoba bakso yang dijual 8000 per mangkuk plus dengan es tehnya.

Secara prinsip dan logis, berdagang kuliner adalah menjual rasa, rasa yang enak dan digemari banyak orang akan menjadi tujuan utama penjual kuliner tersebut termasuk di antaranya bakso. Jadi tidak mungkin penjual mengkampanyekan kalau dagangan yang dijual belikan memiliki rasa tidak enak.

Namun penjual bakso di dekat halte Baron itu tidak mengambil sikap demikian, ia menangkap target agar konsumen dibuat penasaran dengan lebel nama di lapaknya, sehingga konsumen pun mau mencoba rasa dari bakso tersebut.

Sebenarnya perlu untuk digaris bawahi dari langkah yang diambil oleh penjual tersebut, satu sisi dinilai bagus, karena dalam berjualan pemilik kedai tidak asal jual, namun ada manajemen dan strategi yang dijalankan, itu berarti segala hal yang dijalankan telah melalui proses manajerial minimal perencanaan dan evaluasi.

Akan tetapi sekali lagi, berdagang bakso adalah jualan rasa, jika target hanya membuat konsumen penasaran dan tidak diimbangi dengan kualitas rasa dari produk yang dijual, maka sekali coba dijamin pembeli tidak akan kembali lagi, karena rasa penasaran sudah terbayar.

Namun jika rasa dari bakso tersebut memang benar-benar istimewa, maka penjual benar-benar berhasil membuat konsep penjualan yang baik, jika sudah demikian penjual baru akan berdatangan dan pelanggan setia tidak akan berpindah ke lain hati.

Lalu bagaimana dengan rasa "Bakso Ora Enak" di sebelah halte stadion Baron?, Entahlah .... sampai kini, penulis juga belum tahu, karena belum pernah tergoda untuk makan di kedai itu.

@myh

Selasa, 31 Maret 2020

24 JAM

Malam Jum'at, tepatnya dalam perjalanan pulang dari mengajar di kampus, ada yang terasa aneh di sepeda saya, semacam oleng jika dikendarai, benar saja, setelah saya check, ternyata roda depan sepeda saya gembos, "Malam begini di mana ada tukang tambal ban" gumam saya saat itu.

Seketika saya teringat ada tukang tambal ban di daerah Kwajon yang buka 24 jam, dan dipaksa untuk dikendarai sampai lokasi kemungkinan masih bisa. Pikir saya.

Sepuluh menit berlalu, saya sudah sampai di tempat yang dituju. Di lokasi bukan pemiliknya yang ada, entah tetangga, famili atau mungkin orang yang mau tambal ban juga. Monggo pinarak riyen mas ...., Orang itu menimpali sembari bergegas pergi keluar. Dan beberapa waktu berlalu dapat dimengerti, bahwa orang itu adalah pelanggan yang sedang mengganti sementara selama pemilik bengkel melakukan perbaikan di rumahnya.

Sebuah bengkel yang tidak hanya melayani jasa perbaikan motor, namun juga melayani cuci motor, laundry, tambal ban, ganti oli dan penjualan beberapa suku cadang kendaraan. Sebuah paket komplit yang berkaitan dengan kendaraan bermotor.

Jika diamati, ada yang unik di tempat tambal ban itu, di jendela kaca bertuliskan buka 24 jam. Upaya peningkatan pelayanan pada pelanggan kapan pun tanpa ada jeda, karena ban bocor tidak melihat apakah jam kerja tukang tambal ban tutup atau buka.

Sepengetahuan saya, pelayanan publik yang buka 24 jam nonstop saat ini adalah IGD/UGD, SPBU, apotek, dan minimarket. Namun kini peningkatan pelayanan agaknya juga mulai merambah ke dunia reparasi roda kendaraan. Kerangka berpikirnya juga masih sama sebagaimana di atas, yaitu roda bocor tidak mengenal waktu, kapan pun dan di manapun, sehingga kesiapan menjual jasa juga harus diimbangi, yaitu kapanpun dan di manapun.

Konsep ini sebenarnya dapat dikembangkan ke berbagai hal, mulai dari pendidikan, pengembangan diri, ekonomi, gaya hidup dan lain sebagainya, harus ada peningkatan dan penambahan tanpa kenal waktu dan tempat.

Dalam hal pendidikan misalnya, peningkatan terhadap penguasaan materi harus terus diupayakan bertambah sebanyak dan sedalam mungkin, informasi dan pengetahuan kini juga harus detail dan luas, karena dengan begitu, manusia tidak akan jauh tertinggal dengan mobilisasi zaman.

Bergerak 24 jam menjadi alarm bahwa kualitas manusia harus tinggi, produktif dan berprogres, tiap hari harus terus berkarya dan tidak boleh malah semakin menurun, karena era dan zaman pun terus bergerak cepat tanpa memandang manusia mengikutinya atau tidak.

Hidup 24 jam juga seolah menjawab bahwa jatah waktu yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa harus benar-benar dimanfaatkan sebaik-baiknya, menjalani hidup seolah setelah digit ke 24 sudah tidak ada lagi bilangan 25 dan seterusnya, artinya upaya pemaksimalan harus benar-benar diterapkan agar semakin terasa betapa mahalnya harga sebuah waktu dan kesempatan.

@myh

HARI MINGGU HARI KELUARGA

Hari minggu adalah hari libur. Untuk siapa? Untuk siapa saja yang terjadwal hari itu, bukan hanya umat kristiani saja, namun beberapa organisasi dan instansi yang bahkan milik umat muslim sekalipun juga ambil libur di hari minggu.

Dengan tanpa mengesampingkan bahwa hari minggu adalah hari ibadah bagi saudara kita yang menjalankannya, hari minggu menjadi hari libur nasional dan merupakan hari keluarga.

Di tempat penulis bekerja, kasusnya juga sama, tidak hanya pagi namun juga saat sore hari, seolah semua menata diri untuk menghindari penjadwalan pada hari Minggu/Ahad kendati sekolah berada di lingkungan pesantren.

Jika memang dipaksakan masuk, tingkat ketidak hadiran pada hari minggu terbilang cukup tinggi. Dampaknya, banyak kelas yang dimasuki oleh guru pengganti dan sebagian besar dari siswa senior di tingkat atas.

Hari minggu dikatakan hari keluarga, memang banyak yang mengiyakan, hari beristirahat dari rutinitas kesibukan sehari-hari, biasanya dijadikan ajang keluar rumah atau jalan-jalan bersama keluarga. Apalagi jika mengingat pada hari minggu, banyak destinasi wisata dan perbelanjaan yang "open house" dalam rangka menyambut mereka.

Lalu bagaimana dengan hari Jum'at? Terlebih bagi sekolah dan instansi di lingkungan pesantren yang mengambil hari Jum'at sebagai hari libur?.

Hari Jum'at, selain ditentukan sebagai hari libur, juga dijadikan hari persiapan ibadah shalat Jum'at, ibadah mingguan yang terletak pada sayyidul ayyam. Sebagai umat muslim tentu kita harus menyambutnya dengan penuh suka cita, karena di sana banyak berkah dan peluang pahala.

Terlepas dari itu semua, apapun harinya, tergantung dari kita untuk menyikapinya sekaligus menata dan memanfaatkan peluang yang ada untuk hal-hal yang positif dan berguna.

@myh