Sebelum mondok, tidur siang bukanlah kebiasaan saya, selain karena saat siang itu saya harus sekolah, tidur siang tidak begitu perlu menurut sasya. saat liburpun aku tidak terbiasa untuk tidur siang.
Banyak orang bilang, agar tubuh menjadi sehat dan fresh, maka harus dirutinkan untuk tidur siang, tapi ujaran-ujaran itu, tidak kemudian lantas menggugah saya untuk selalu tidur siang, sampai beberapa waktu berlalu.
Kebiasaan tidur siang mulai muncul saat masuk pesantren, sebagai santri, semua harus mentaati jadwal yang telah ditata rapi oleh pengurus. Semua santri wajib mengikuti jadwal itu, jika tidak, bakal dipastikan kegiatannya akan berjalan amburadul. Waktunya tidur ia makan, saat makan ia belajar, ketika belajar ia tidur, semua menjadi kacau.
Pertama kali mengikuti jadwal itu sebenarnya saya cukup kesulitan, saat tidur siang saya tetap terjaga meski badan telah direbahkan dan mata dipejamkan, pikiran berkeliaran ke mana-mana.
Namun setelah berjalan beberapa waktu, sambil dipaksa, tidur siang agaknya sudah menjadi kebiasaan dan mulai rutin saya lakukan, bahkan jika dalam waktu-waktu tertentu tidak tidur siang, kepala terasa sangat pusing dan dapat hilang hanya dengan tidur siang.
Pada awalnya saya sedikit berontak, mengapa semua santri harus tidur siang?. Jawaban dari pemberontakan hati saya itu sebenarnya sudah terjawab secara real melalui kegiatan-kegiatan yang dijalankan dalam pesantren.
Aktivitas pesantren dimulai sejak pukul 04.30 dan berakhir secara resmi pukul 22.00 malam. Itu artinya setiap santri dituntut memiliki tenaga yang full untuk menjalankan itu semua, ibarat HP, baterai untuk menjalankan itu harus di carge secara berkala, tidur siang diibaratkan carge para santri untuk mengisi tenaga agar bisa kuat sampai kegiatan nanti malam.
Dan pada akhirnya kebiasaan tidur siang terbawa sampai ke rumah, meski saya sudah boyong atau tidak mukim di pondok lagi.
Pada awalnya fine-fine saja, namun lama kelamaan kebiasaan tidur siang mulai janggal aku lakukan, sebab aktivitas di rumah sudah tidak sepadat seperti saat di pesantren dulu. Pukul 21.00 malam di rumah sudah pada tidur termasuk istri dan anak saya, lingkungan juga sudah mulai sepi, lama kelamaan aku terpengaruh dan terbawa dengan hal itu dan ikut-ikutan tidur di waktu yang termasuk kategori sore saat di pondok.
Maka saya berpikir, waktu tidur saya terlalu panjang. Kalau saya malam tidur jam sekian, dan baru bangun saat adzan shubuh, masak siang juga harus tidur? Ini tidak bisa dibiarkan, saya harus merubahnya.
Cukup sulit memang membiasakan lagi untuk tidak biasa tidur siang. Harus mulai menata dan membiasakan sebagaimana saat di pondok dulu.
Kadang untuk menyemangati kala kendur dan tergoda untuk tidur siang, dengan berperang melawan pikiran, "di luaran sana, waktu siang seperti ini berjalan produktif, digunakan untuk belajar menghasilkan ilmu, bekerja menghasilkan uang, bergaul menghasilkan teman dan jaringan, jalan-jalan menghasilkan pengalaman dan kegiatan lainnya" kenapa saya enak-enakan tidur. Padahal nanti sore juga tidurnya nggak malam-malam amat, kritikku melawan diri.
Sama seperti saat di pondok, pembiasaan untuk tidak tidur siang juga cukup menyiksa, bahkan saya harus melawan rasa pusing kepala jika memaksa untuk tetap terjaga di siang hari. Namun karena dilawan secara terus menerus, kebiasaan tidak tidur siang mulai terbiasa lagi dan waktu yang ada bisa digunakan untuk penyaluran hobi, persiapan mengajar di kampus dan aktivitas positif lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar