Rabu, 12 Juni 2019

PENGALAMAN PERTAMA NONGKRONG DI WARUNG KOPI


Sebelumnya pernah muncul perasaan heran di benak saya, mengapa keberadaan warung-warung kopi kini menjamur, dan kebanyakan dipenuhi oleh anak-anak muda yang asyik nongkrong sama teman-temannya. Mereka betah berlama-lama menghabiskan waktu di tempat tersebut entah apa saja yang dilakukan.

Dari secangkir kopi yang dipesan, mereka bisa berjam-jam duduk di warung tersebut, dan seolah sudah menjadi aturan umum, setiap warung kopi menyediakan jaringan wifi, tv, full musik dan dilengkapi dengan beragam jenis makanan ringan.

Dan malam itu, setelah menghadiri acara bukber bersama salah satu kawan saya di ex lokasi KKN kampus tempat kita mengajar, teman saya menawarkan untuk ngopi dulu sebelum pulang, ajakan itu saya iyakan mengingat banyak topik dan tema yang ingin saya obrolkan dengan teman saya itu, maklum, ia orang super sibuk.

Seperempat jam perjalanan sambil cari tempat yang pas dan strategis, sehingga akhirnya ketemulah warung kopi di sebelah jalan sebelum jalan protokol, sepintas kelihatannya tempatnya nyaman, tidak begitu ramai. Dan akhirnya kami sepakat nongkrong di situ.

Teman saya memesan dua cangkir kopi jahe yang dalam daftar papan menu dipatok dengan harga 4K percangkirnya, setelah ambil empat kacang dengan dua varian rasa, kami memilih tempat duduk di area dalam sebelah pintu keluar.

Fasilitas wifi yang disediakan sengaja tidak kami gunakan. Di seberang terlihat tiga anak laki-laki di dampingi sang ayah yang lagi seru dan asyik main hape ditemani es Joshua dan es jeruk manis. Entah apa yang mereka mainkan, mungkin game online dengan wifi yang warung sediakan.

Topik yang bergonta-ganti menjadi tema obrolan kami mulai dari kampus tempat teman saya bekerja, kampus kami, sekolah pagi tempat saya bekerja, lokasi dampingan di salah satu wilayah Gondang, bisnis dan sampai pada aplikasi-aplikasi yang dipakai.

Obrolan semakin dalam dan intens setelah dua cangkir kopi pesanan kami datang diantar pemilik warung, seorang pemuda dengan potongan rambut mohaks dan diberi pewarna merah. Kalau saya terka mungkin usianya 21 sampai 23 tahunanlah. Ia bekerja seorang diri.

Rasa kopi cukup memuaskan dan representatif menemani bincang-bincang kami yang semakin mengasyikkan yang juga ditemani siaran televisi LCD menempel di tembok belakang kasir dan tempat penyajian yang menjadi satu. Tayangan tentang moto GP yang kurang begitu saya pahami sesekali mengalihkan pandangan saya pada tv tersebut.

Tanpa terasa, jarum jam tengah menunjuk pada angka delapan lebih lima menit, itu artinya kami sudah ngobrol panjang di warung tersebut sekitar satu jam setengah. Dan sebuah fakta mematahkan sasumsi dan penasaran saya selama ini, mengapa para pemuda yang hobi nongkrong di warung-warung bisa sampai berjam-jam di sana, ternyata mereka memiliki aktivitas yang cukup banyak juga.

Namun yang perlu ada evaluasi adalah bagaimana waktu yang benar-benar lama tersebut jangan sampai terbuang sia-sia. Kesempatan nongkrong dapat disalurkan pada hal-hal yang produktif dan positif yang tidak hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri namun juga orang lain.
@myh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar