Ada yang berbeda dan sedikit
menyita perhatian saat hilir mudik para siswa di lingkungan Madrasah, yaitu
adanya identitas nama yang menempel di baju beberapa siswa, ya… hanya beberapa
siswa, tidak semua siswa mengenakan itu, yang belakangan diketahui ternyata
yang mengenakan ID itu hanya teman-teman dari pengurus OPK saja.
Kondisi demikian
menyulut sebuah pertanyaan, mengapa tidak semua siswa mengenakan identitas itu
ya? Padahal andaikan diterapkan, banyak sekali kemudahan-kemudahan yang bakal
dapat dilakukan, di antaranya:
1. Sebagai identitas kepemilikan baju
Secara umum hal demikian tidak begitu
penting, tapi kalau sudah berada di lingkungan pondok, hal yang kelihatannya
remeh itu bisa menjadi alat yang bisa diandalkan, mengingat di komunitas
tersebut sangat rawan terjadi kehilangan disebabkan pindah tempat, tertukar
atau mungkin juga diambil santri lain. Dengan adanya identitas tersebut,
minimal untuk baju sekolah yang semua siswa memiliki seragam dengan warna yang
sama dengan mudah untuk diketahui.
Sebenarnya pemberian
tanda pada masing-masing pakaian sudah dirasakan urgen bagi sebagian besar para
siswa, terbukti dengan banyaknya tanda-tanda yang mereka berikan pada pakaian
mereka, akan tetapi pemberian tanda kadang dilakukan “sekenanya”, berbentuk
gambar, tulisan dengan ukuran jumbo, tertulis di area yang tak sepatutnya dan
sebagainya, yang kadang tanda-tanda tersebut sangat jauh dari kata sopan.
2. Mempermudah kedekatan guru dengan siswa karena
mengenal namanya
Guru perlu menciptakan adanya kedekatan dan
keakraban dengan para siswanya guna efektifitas pembelajaran, dan minimal bukti
kedekatan tersebut adalah dengan mengetahui namanya, dalam kelas seorang guru
yang tak mengenal kepribadian para siswanya mengakibatkan pembelajaran kurang
optimal, setiap hari hanya “hai kamu yang berkopyah hitam …., iya kamu …” dalam
berinteraksi di dalam kelas, dapatkah berjalan efektif gambaran yang demikian?
3. Meminimalisir budaya _ghasab_
Rasanya sangat sulit untuk menjauhkan
kebiasaan meminjam tanpa seizin pemiliknya tersebut dari sebuah perkumpulan,
tidak hanya di pesantren, di asrama, kos-kosan, _basecamp_ dan tempat-tempat sejenis
aktivitas serupa juga kerap terjadi dengan beragam alasan pemakaian.
Untuk meminimalisir perbuatan tersebut di
antaranya adalah dengan memberikan identitas secara _publish_, sehingga kalau _ghasab_
benar-benar masih tetap dilakukan, _bakal ketahuan deh …._
4. Mempermudah penelusuran baju saat hilang
Setiap hari Selasa dan Jum’at, Petugas
Kebersihan di pondok selalu disibukkan dengan tumpukan baju, sarung, seragam,
sandal, sepatu yang tak bertuan, beberapa langkah pernah dicoba untuk mencegah
kejadian senada, mulai dari denda, sita, ta’zir dan sebagainya, namun kebiasaan
tersebut selalu terulang kembali karena petugas kesulitan untuk menebak si
empunya.
Dengan adanya label nama pada setiap
pakaian-pakaian tersebut, tentu mempermudah petugas kebersihan untuk menelusuri
pemiliknya, kalau sudah demikian penerapan _punishment_ menjadi lebih mudah
untuk sekedar menjerakan mereka.
*Pentingkah pemberian
nama siswa secara resmi pada seragam sekolah???*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar