Tidak
dapat dipungkiri, bekerja dengan nyaman dibutuhkan untuk menyelesaikan beberapa
program dan proyek yang telah ditargetkan, baik target pribadi maupun target
yang telah ditetapkan oleh instansi atau pimpinan, faktor yang mempengaruhi
ketercapaian target bisa juga datang dari dalam diri ataupun juga dari
luar.
Minggu, 06 Mei 2018
MENJAGA BUDAYA KERJA DI RUANG KERJA
Minggu, 29 April 2018
SHOFA Karyawan Kantor Pembawa Map
Sumber gambar : Vestirama.ru
Bisa dibilang karyawan termuda
kedua setelah Bapak Sunardi, yang dulu perekrutannya di kantor cukup unik
sepanjang pengetahuan saya, yaitu pengangkatan yang tak disengaja karena ia
terjadwal jaga liburan sebagai bentuk pengabdian rekan tamatan, ya … jaga
liburan (catet itu) dan kebetulan pendaftaran siswa baru di sekretariat PSB
membeludak kala itu, sehingga menuntut adanya percepatan perekapan dan
akumulasi data siswa baru, sehingga memanfaatkan tenaga dari petugas jaga liburan
di area al Ummah.
Namun berawal dari ketidaksengajaan
tersebut, akhirnya penetapan sebagai karyawan dilanjutan hingga ditempatkan di salah
satu unit pendidikan di bawah naungan Yayasan Islam al Ghozali, yaitu Madrasah
Tsanawiyah Darussalam, Itulah sekelumit cerita dari awal karir seorang karyawan
yang tempo hari pernah dijuluki oleh pengasuh dengan julukan "Karyawan Pembawa
Map", entah apa motifnya, namun belakangan diketahui karena dia kemana-mana
selalu membawa sejumlah dokumen yang ditaruh di beberapa map, ngalor ngidul
map itu dibawa untuk menguhubungkan dari satu kelas ke kelas yang lain, dari guru
satu ke guru yang lain.
Karena kategori paling muda dan masih single, sebagaimana pemuda pada umumnya, dapat ditebak apa isi dari laci meja
kantor dan tasnya, ya … seperangkat alat “Kecantikan eh … ketampanan” berupa
cermin, alat cukur, splash atau parfum dan peralatan “macak” lainnya, sebuah
kewajaran bukan? maklulm belum laku, hehe … Jadi sangat wajar kalau sebelum
bekerja di pagi hari, menata wajah, busana dan rentetan asesoris seolah menjadi
aktivitas rutin yang jarang untuk ditinggalkan. Pria metroseksual mungkin kalau
boleh dikata.
Kini usia lajangnya sebentar lagi
akan sirna, 12 Mei 2018 ia akan mempersunting seorang gadis berasal dari daerah
Baron yang masih tercatat sebagai keluarga nDalem, entah bagaimana perjalanan
cinta (Love Story) nya, yang jelas kabar kedekatan mereka sampai penentuan
tanggal pernikahan terkesan begitu mendadak, gojoklan dan sindiran seolah tiada
henti setiap hari kerja yang datang dari seluruh kolega kerjanya, bahkan kadang
segala kesalahan yang berkaitan dengan administrasi selalu dihubung-hubungkan
dengan status ia yang akan segera mengakhiri masa lajangnya, “maklum arep rabi”
kata-kata itu mungkin menjadi penutup untuk mengakhiri hujatan pada koreksi
sebuah kesalahan.
Semoga samawa sobat …
Selasa, 10 April 2018
IKLIM AKADEMIS YANG TAK TERASA
Dalam
lingkungan sekolah sudah sepatutnya diberlakukan segala aturan atau kode etik,
karena memang sebuah sekolah dihuni oleh beragam manusia yang memiliki karakter
dan latar belakan yang berbeda, bahkan ada yang mengatakan bahwa sekolah adalah
tempat bermuaranya segala aturan di samping tempat belajar, dibutuhkan komitmen
serta disiplin yang tinggi dalam melakuan segala aturan yang dibuat, baik
pengelola, penentu kebijakan maupun si pelaku atau dalam hal ini adalah siswa,
karena jika itu tidak dipegang kuat, maka dapat dipastikan sebuah aturan akan
tinggal sebuah aturan, deretan kata-kata larangan serta kewajiban beserta
sangsinya tak lebih hanyalah sebuah rangkaian kata-kata penghias dinding yang
tak dihiraukan apalagi dilakukan.
Sebenarnya sangat dibutuhkan penciptaan
suasana akademik terlebih dalam lingkungan sekolah yang notabene kental dengan
aktifitas akademik walaupun di beberapa lokasi lain suasana akademik tidak
melulu berada pada lingkungan sekolah, karena dengan adanya suasana demikian
akan sangat berpengaruh pada psikis dan karakter siswa yang akan terikat dan
menjelma menjadi sebuah kebiasaan, kalau kebiasaan sudah mendarah daging, maka
itulah akhlak, dan pada poin inilah tujuan sebuah pendidikan, untuk mamanusiakan
manusia,
Mengapa suasana akademik penting?
Pertanyaan ini menjadi urgen untuk dijawab, karena itu memang merupakan sebuah
keharusan dalam menempa suatu karakter, pemikiran daya nalar, kreatifitas dan
imajinasi siswa, sehingga ketika suasan akademik sudah tidak ada lagi dalam
sebuah lingkungan sekolah, maka indikasi gagal sudah tampak menyata. Walau
kadang kemerosotan ini tidak banyak tersendus oleh steaholder sekitar sekolah
Karena perubahannya berevolusi sehingga seolah tidak nyata, walhasil,
dibutuhkan komitmen kuat dalam menjalankan sebuah kode etik, kita harus yakin
bahwasannya sebuah peraturan dibuat memang untuk membantu kita agar cepat dalam
berevolusi dalam kelas.
Pelanggaran kode etik atau aturan oleh
siswa yang tidak segera ditindaklanjuti kadang memunculkan anggapan bahwa
larangan tersebut sah untuk dilakukan, pelanggaran tanpa tindak lanjut kalau
dibiarkan secara terus menerus niscaya akan menjadi suatu pelegalan terhadap
larangan yang telah disepakati tidak hanya siswa, namun juga guru dan pihak
manajerial. Dan kondisi demikian juga sangat didukung dengan diamnya para
pemangku kebijakan atau minimal kalangan guru, karena sebuah tindakan seolah
telah kalah banyak dengan banyaknya pelanggaran yang secara ‘resmi’ dilakukan
secara bersama-sama.
Sebenarnya gambaran tentang
terciptanya suasana atau iklim sebagaimana lingkungan tidak hanya berlaku di
lingkungan sekolah saja, di tempat kerja, tempat ibadah, lokasi wisata, rumah
dan tempat-tempat lainnya, iklim lingkungan juga harus senantiasa terjaga,
karena secara tidak langsung hal itu akan menunjukkan kualitas dari komunitas
yang ada di dalamnya.
Wallahua’lam
…
Minggu, 08 April 2018
Mengagumkan, Beginilah Shalat Sahabat Abu Bakar, Berefek pada yang Lain
Salah satu sahabat Nabi yang kisah
perjalanan hidupnya banyak mewarnai Islam adalah Abu Bakar Asy Syiddiq ra., termasuk
golongan orang-orang shalih yang telah mengabdikan secara total hidup dan
segenap jiwa raga, harta kekayaan serta waktunya untuk diinfakkan di jalan
Allah.
Sahabat yang bernama lengkap Abdullah bin
Abi Quhafah Al Qurasyi At Tamimi ini sangat mudah mencucurkan air mata kala
membaca Al Quran dalam shalatnya. Hal itu disebabkan karena banyaknya
pengalaman hidup beliau bersama Al Quran dan keintaan beliau terhadap mukjizzat
Nabi tersebut, Sehingga beliau tidak mampu menahan haru serta perasaannya dari
kejadian-kejadian yang pernah dialaminya ketika membaca Al Quran.
Kekhusyukan serta tangisan sahabat Abu
Bakar di dalam shalat sangat berpengaruh bagi orang-orang yang berada disekitarnya. Bahkan kaum
kafir Quraisy yang merasa terganggu dan dirasa menyakiti mereka. Mereka juga
khawatir insiden tersebut menjadi fitnah bagi anak dan istri mereka, dan
merekapun menyuruh Abu Bakar untuk mengerjakan shalat dikediamannya sendiri.
Tak berselang lama, Abu Bakar membangun sendiri
sebuah masjid di sekitar rumahnya, beliau mendirikan shalat dan membaca Al
Quran di masjid tersebut sehingga menjadi pusat perhatian dan memunculkan
kekaguman dari istri-istri golongan musyrikin dan anak-anak mereka, Abu Bakar
adalah seorang laki-laki yang sering menangis, beliau tidak bisa menahan air
matanya ketika membaca aL Qur’an.
Kebiasaan Abu Bakar ra. yang menangis
saat membaca al Qur’an di dalam shalat telah dijelaskan dalam hadits Aisyah ra. kala Nabi SAW.
berkata “Mereka melalui Abu Bakar yang sedang shalat bersama dengan yang
lainnya.” Aisyah menuturkan, Saya pun berkata kepada Nabi, “Wahai
Rasulullah, sesungguhnya Abu Bakar adalah seorang laki laki yang lembut
hatinya, apabila telah membaca Al Quran beliau tidak mampu menahan cucuran air
mata dari keduanya.” (HR Muslim)
Kamis, 05 April 2018
BELAJAR DARI KPM 2017
Setelah
ditugaskan oleh pihak STAIDA untuk mendampingi para mahasiswa dalam melakukan
kegiatan kuliah pengabdian Masyarakat, banyak sekali pembelajaran yang dapat
penulis ambil dari kegiatan tersebut mulai dari karakter setiap personil KPM, karakter
tokoh Masyarakatnya, antar panitia, tim monef juga antar DPL/DP.
Pembelajaran
dari peserta penulis ambil pada sikap pemberaninya kordes dalam menghadapi apa
dan siapapun, kadang aku juga merasa iri, iri dalam artian saya kembalikan
kepada penulis sendiri, seusianya, mungkin penulis belum mampu untuk
melakukannya, dan kalau diambil pelajaran pada pribadi penulis, mengapa kadang
banyak kesempatan yang datang pada penulis selalu ditolak dengan alasan tidak
mampu, entah ketidak mampuan tersebut Karena memang betul-betul tidak mampu
atau mungkin sebagai alasan karena diliputi rasa takut, takut salah, takut
tidak sukses dan ketakutan lainnya.
Kemahiran
dia dalam menyelesaikan masalah memang patut untuk diacungi jempol, walau
kadang dalam memimpin masih terdapat sifak kekanak-kanakannya, tapi hal itu
tidak menjadikannya lemah dalam memimpin kegiatan yang tengah atau akan
dijalankan. Mungkin ini adalah cara Allah untuk memberikan pembelajaran pada
penulis, tidak melalui bangku sekolah, buku atau teori namun berupa
pembelajaran real yang langsung tampak di depan mata.
Pembelajaran
dari masyarakat yang dapat penulis ambil adalah dalam bermasyarakat tidak semua
ilmu yang didapat dari pondok dapat pula kita terapkan secara langsung pada masyarakat,
Karena di dalam masyarakat memiliki karakter yang beragam, sehingga budaya
serta kebiasaan yang berlakupun juga tidak sama, ukuran baik di daerah satu
belum tentu bernilai baik di daerah lain, tata cara yang dianggap baik oleh
kesepakatan dan aturan lembaga, juga belum tentu dianggap baik oleh budaya yang
ada di Masyarakat, sehingga harus pandai-pandai menyikapi segala masalah yang
tengah terjadi agar konflik tidak mengiringi perjalanan berikutnya.
Masyarakat
yang dijadikan obyek sasaran juga memiliki karakter dan sikap suka berkelompok-kelompok,
baik dari tokoh masyarakat maupun dari
perangkat desa, hal itu sudah menjadi rahasia umum yang telah banyak dikatahui
orang. Bahkan sang tokoh agama yang seharusnya dijadikan sebagai figurpun juga
memiliki karakter demikian, terbukti di tengah-tengah acara KPM berlangsung
kala para mahasiswa bersama-sama pengurus cabang IPNU dan IPPNU Kertosono
menggelar acara rutin berbentuk seminar kepemimpinan, salah satu tokoh agama
masyarakat setempat yang kebetulan rumahnya bersebelahan dengan lokasi acara
juga tidak ikut berpartisipasi, gambaran demikian juga merupakan pembelajaran
mahal dan berharga baik buat penulis, mahasiswa atau peserta KPM dan bahkan
pihak kampus.
Pengalaman
yang juga tidak kalah serunya adalah adanya gojlokan, persaingan sekaligus
saling memberi inspirasi pada semua program-program yang dijadikan andalan
peserta KPM. Dengan kesibukan yang dimiliki oleh masing-masing DPL/DP mereka
dapat memantau dan mengontrol dari jarak dekat bagaimana proses KPM tersebut berjalan.
Walaupun bully juga sering diangkat dalam tema WA Group yang dibentuk secara
khusus sebagai penghubung antara panitia, DPL/DP, Tim monev dan petinggi
lembaga, hasil tim moonev dalam mewawancarai secara langsung pada peserta KPM
yang dijawab dengan polos dan lugu kadang menjadi modal tema dalam meramaikan
group tersebut.
Hingga
pada akhirnya kegiatan tersebut berakhir dengan tanpa adanya evaluasi kegiatan
yang diikuti oleh semua panitia, tim monev dan dpl/dp. Padahal itu yang
ditunggu-tunggu untuk dijadikan sebagai bekal penulis pada KPM berikutnya.
Referensi
program dan kegiatan kadang perlu untuk menerapkan ATM, amati, tiru dan
modifikasi, hal itu memang tepat digunakan oleh individu seperti penulis yang
mungkin banyak sekali memiliki kekurangan.
Amati,
ya … itu mungkin perangkat satu-satunya yang dijadikan modal karena belum mampu
secara kreatif menghasilkan secara pribadi, jadi andalan utamanya adalah
mengamati hal-hal menarik di sekitar kita, kemudian dilanjutkan cara yang
kedua, yaitu meniru.
Meniru
merupakan sambungan dari cara pertama, masih dengan motif yang sama, karena belum
adanya kemampuan untuk menghasilkan karya secara mandiri, maka harus melirik
sana-sini kemudian ditiru, agar tidak dikatakan plagiasi atau menjiplak karya
orang lain, maka harus dilengkapi dengan langkah berikutnya.
Modifikasi,
Setelah diamati dan ditiru, vonis sebagai plagiat sangatlah potensial, untuk
menghindari hal tersebut, maka perlu adanya modifikasi, selain itu, barang yang
tidak benar-benar baru tersebut telah layak dikatakan kreatif.
Semoga bermanfaat.
Langganan:
Postingan (Atom)


