Malam Jum'at, tepatnya dalam perjalanan pulang dari mengajar di kampus, ada yang terasa aneh di sepeda saya, semacam oleng jika dikendarai, benar saja, setelah saya check, ternyata roda depan sepeda saya gembos, "Malam begini di mana ada tukang tambal ban" gumam saya saat itu.
Seketika saya teringat ada tukang tambal ban di daerah Kwajon yang buka 24 jam, dan dipaksa untuk dikendarai sampai lokasi kemungkinan masih bisa. Pikir saya.
Sepuluh menit berlalu, saya sudah sampai di tempat yang dituju. Di lokasi bukan pemiliknya yang ada, entah tetangga, famili atau mungkin orang yang mau tambal ban juga. Monggo pinarak riyen mas ...., Orang itu menimpali sembari bergegas pergi keluar. Dan beberapa waktu berlalu dapat dimengerti, bahwa orang itu adalah pelanggan yang sedang mengganti sementara selama pemilik bengkel melakukan perbaikan di rumahnya.
Sebuah bengkel yang tidak hanya melayani jasa perbaikan motor, namun juga melayani cuci motor, laundry, tambal ban, ganti oli dan penjualan beberapa suku cadang kendaraan. Sebuah paket komplit yang berkaitan dengan kendaraan bermotor.
Jika diamati, ada yang unik di tempat tambal ban itu, di jendela kaca bertuliskan buka 24 jam. Upaya peningkatan pelayanan pada pelanggan kapan pun tanpa ada jeda, karena ban bocor tidak melihat apakah jam kerja tukang tambal ban tutup atau buka.
Sepengetahuan saya, pelayanan publik yang buka 24 jam nonstop saat ini adalah IGD/UGD, SPBU, apotek, dan minimarket. Namun kini peningkatan pelayanan agaknya juga mulai merambah ke dunia reparasi roda kendaraan. Kerangka berpikirnya juga masih sama sebagaimana di atas, yaitu roda bocor tidak mengenal waktu, kapan pun dan di manapun, sehingga kesiapan menjual jasa juga harus diimbangi, yaitu kapanpun dan di manapun.
Konsep ini sebenarnya dapat dikembangkan ke berbagai hal, mulai dari pendidikan, pengembangan diri, ekonomi, gaya hidup dan lain sebagainya, harus ada peningkatan dan penambahan tanpa kenal waktu dan tempat.
Dalam hal pendidikan misalnya, peningkatan terhadap penguasaan materi harus terus diupayakan bertambah sebanyak dan sedalam mungkin, informasi dan pengetahuan kini juga harus detail dan luas, karena dengan begitu, manusia tidak akan jauh tertinggal dengan mobilisasi zaman.
Bergerak 24 jam menjadi alarm bahwa kualitas manusia harus tinggi, produktif dan berprogres, tiap hari harus terus berkarya dan tidak boleh malah semakin menurun, karena era dan zaman pun terus bergerak cepat tanpa memandang manusia mengikutinya atau tidak.
Hidup 24 jam juga seolah menjawab bahwa jatah waktu yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa harus benar-benar dimanfaatkan sebaik-baiknya, menjalani hidup seolah setelah digit ke 24 sudah tidak ada lagi bilangan 25 dan seterusnya, artinya upaya pemaksimalan harus benar-benar diterapkan agar semakin terasa betapa mahalnya harga sebuah waktu dan kesempatan.
@myh
Selasa, 31 Maret 2020
HARI MINGGU HARI KELUARGA
Hari minggu adalah hari libur. Untuk siapa? Untuk siapa saja yang terjadwal hari itu, bukan hanya umat kristiani saja, namun beberapa organisasi dan instansi yang bahkan milik umat muslim sekalipun juga ambil libur di hari minggu.
Dengan tanpa mengesampingkan bahwa hari minggu adalah hari ibadah bagi saudara kita yang menjalankannya, hari minggu menjadi hari libur nasional dan merupakan hari keluarga.
Di tempat penulis bekerja, kasusnya juga sama, tidak hanya pagi namun juga saat sore hari, seolah semua menata diri untuk menghindari penjadwalan pada hari Minggu/Ahad kendati sekolah berada di lingkungan pesantren.
Jika memang dipaksakan masuk, tingkat ketidak hadiran pada hari minggu terbilang cukup tinggi. Dampaknya, banyak kelas yang dimasuki oleh guru pengganti dan sebagian besar dari siswa senior di tingkat atas.
Hari minggu dikatakan hari keluarga, memang banyak yang mengiyakan, hari beristirahat dari rutinitas kesibukan sehari-hari, biasanya dijadikan ajang keluar rumah atau jalan-jalan bersama keluarga. Apalagi jika mengingat pada hari minggu, banyak destinasi wisata dan perbelanjaan yang "open house" dalam rangka menyambut mereka.
Lalu bagaimana dengan hari Jum'at? Terlebih bagi sekolah dan instansi di lingkungan pesantren yang mengambil hari Jum'at sebagai hari libur?.
Hari Jum'at, selain ditentukan sebagai hari libur, juga dijadikan hari persiapan ibadah shalat Jum'at, ibadah mingguan yang terletak pada sayyidul ayyam. Sebagai umat muslim tentu kita harus menyambutnya dengan penuh suka cita, karena di sana banyak berkah dan peluang pahala.
Terlepas dari itu semua, apapun harinya, tergantung dari kita untuk menyikapinya sekaligus menata dan memanfaatkan peluang yang ada untuk hal-hal yang positif dan berguna.
@myh
Dengan tanpa mengesampingkan bahwa hari minggu adalah hari ibadah bagi saudara kita yang menjalankannya, hari minggu menjadi hari libur nasional dan merupakan hari keluarga.
Di tempat penulis bekerja, kasusnya juga sama, tidak hanya pagi namun juga saat sore hari, seolah semua menata diri untuk menghindari penjadwalan pada hari Minggu/Ahad kendati sekolah berada di lingkungan pesantren.
Jika memang dipaksakan masuk, tingkat ketidak hadiran pada hari minggu terbilang cukup tinggi. Dampaknya, banyak kelas yang dimasuki oleh guru pengganti dan sebagian besar dari siswa senior di tingkat atas.
Hari minggu dikatakan hari keluarga, memang banyak yang mengiyakan, hari beristirahat dari rutinitas kesibukan sehari-hari, biasanya dijadikan ajang keluar rumah atau jalan-jalan bersama keluarga. Apalagi jika mengingat pada hari minggu, banyak destinasi wisata dan perbelanjaan yang "open house" dalam rangka menyambut mereka.
Lalu bagaimana dengan hari Jum'at? Terlebih bagi sekolah dan instansi di lingkungan pesantren yang mengambil hari Jum'at sebagai hari libur?.
Hari Jum'at, selain ditentukan sebagai hari libur, juga dijadikan hari persiapan ibadah shalat Jum'at, ibadah mingguan yang terletak pada sayyidul ayyam. Sebagai umat muslim tentu kita harus menyambutnya dengan penuh suka cita, karena di sana banyak berkah dan peluang pahala.
Terlepas dari itu semua, apapun harinya, tergantung dari kita untuk menyikapinya sekaligus menata dan memanfaatkan peluang yang ada untuk hal-hal yang positif dan berguna.
@myh
Kamis, 12 Maret 2020
YUK KERJA BERTARGET
Coba kita bayangkan, energi yang selama ini kita curahkan, pikiran yang kita tuangkan, semangat yang kita torehkan ternyata hasilnya hanya biasa dan begitu-begitu saja.
Apakah ada yang salah dengan sikap dan kinerja kita selama ini? Sehingga keseharian yang dijalankan tidak dapat berjalan optimal dan produktif, kesuksesan menjauh dan prestasi merendah.
Ya, karena dalam menjalankan pekerjaan kita setiap hari hanya sekedar menunaikan rutinitas, pasif dalam bertindak dan kerap hanya menunggu dari pada berperan aktif jemput bola.
Program yang dijalankan dibiarkan mengalir apa adanya, tanpa progres, tanpa target, tanpa evaluasi serta sepi dari inovasi dan kreativitas, kesemuanya menggelinding pelan tanpa arah dan tujuan.
Dengan sesadar-sadarnya, semua mengerti, setiap program yang hendak dijalankan membutuhkan progres yang pasti, kalkulasi yang matang dan perkembangan yang terukur, karena dengan itu, amunisi kesemangatan akan terus membumbung tinggi mengiringi.
Banyak peristiwa di sekitar kita yang menceritakan kejadian sebagaimana kasus di atas, dengan tanpa maksud menghujat dan hanya sekedar evaluasi, kesemuanya dapat diambil sebagai sebuah pelajaran yang sangat berharga.
Tidak perlu menggunakan akal cerdas untuk mencerna, pendidikan tinggi untuk menganalisa, atau jabatan penting untuk menilai, kerja tanpa target dapat dilihat oleh siapa saja bahkan bagi yang memiliki (maaf) pendek akal sekalipun, karena tak membutuhkan pikiran panjang untuk menerka.
Topik pembicaraan dapat dijadikan identifikasi seseorang bekerja tanpa target, tema yang dibahas hampir tidak banyak bercerita tentang pekerjaan yang diembannya. Ngobrol dari tempat satu pindah ke tempat lainnya dengan alur ngalor-ngidul yang penting terlihat kehadirannya.
Cara menjalankan aktivitas harian juga dapat dijadikan pijakan penilaian kerja tanpa target, mengada-ada pekerjaan yang tidak menghasilkan seolah menjadi kebiasaan yang tak mempan untuk diperingatkan.
Kesibukan yang dijalankan juga dapat dengan gamblang menguraikan jika ia bekerja tanpa target, tiap hari kesibukannya hanya scrolling HP dan menjawab media sosial yang tak berkaitan dengan pekerjaannya sembari sesekali mengangkat tema yang ia lihat pada orang-orang di sekitarnya.
Banyak waktu yang telah disediakan, banyak dana yang telah digelontorkan, dan juga banyak pengorbanan-pengorbanan di sisi sana yang tiada dikenal bahkan dikenang, untuk itu yuk kita bekerja secara produktif melalui konsep kerja ber-target.
@myh
Apakah ada yang salah dengan sikap dan kinerja kita selama ini? Sehingga keseharian yang dijalankan tidak dapat berjalan optimal dan produktif, kesuksesan menjauh dan prestasi merendah.
Ya, karena dalam menjalankan pekerjaan kita setiap hari hanya sekedar menunaikan rutinitas, pasif dalam bertindak dan kerap hanya menunggu dari pada berperan aktif jemput bola.
Program yang dijalankan dibiarkan mengalir apa adanya, tanpa progres, tanpa target, tanpa evaluasi serta sepi dari inovasi dan kreativitas, kesemuanya menggelinding pelan tanpa arah dan tujuan.
Dengan sesadar-sadarnya, semua mengerti, setiap program yang hendak dijalankan membutuhkan progres yang pasti, kalkulasi yang matang dan perkembangan yang terukur, karena dengan itu, amunisi kesemangatan akan terus membumbung tinggi mengiringi.
Banyak peristiwa di sekitar kita yang menceritakan kejadian sebagaimana kasus di atas, dengan tanpa maksud menghujat dan hanya sekedar evaluasi, kesemuanya dapat diambil sebagai sebuah pelajaran yang sangat berharga.
Tidak perlu menggunakan akal cerdas untuk mencerna, pendidikan tinggi untuk menganalisa, atau jabatan penting untuk menilai, kerja tanpa target dapat dilihat oleh siapa saja bahkan bagi yang memiliki (maaf) pendek akal sekalipun, karena tak membutuhkan pikiran panjang untuk menerka.
Topik pembicaraan dapat dijadikan identifikasi seseorang bekerja tanpa target, tema yang dibahas hampir tidak banyak bercerita tentang pekerjaan yang diembannya. Ngobrol dari tempat satu pindah ke tempat lainnya dengan alur ngalor-ngidul yang penting terlihat kehadirannya.
Cara menjalankan aktivitas harian juga dapat dijadikan pijakan penilaian kerja tanpa target, mengada-ada pekerjaan yang tidak menghasilkan seolah menjadi kebiasaan yang tak mempan untuk diperingatkan.
Kesibukan yang dijalankan juga dapat dengan gamblang menguraikan jika ia bekerja tanpa target, tiap hari kesibukannya hanya scrolling HP dan menjawab media sosial yang tak berkaitan dengan pekerjaannya sembari sesekali mengangkat tema yang ia lihat pada orang-orang di sekitarnya.
Banyak waktu yang telah disediakan, banyak dana yang telah digelontorkan, dan juga banyak pengorbanan-pengorbanan di sisi sana yang tiada dikenal bahkan dikenang, untuk itu yuk kita bekerja secara produktif melalui konsep kerja ber-target.
@myh
Senin, 02 Maret 2020
HIDUP PRODUKTIF
Semua manusia memiliki waktu yang sama, masing-masing diberi jatah waktu 24 jam, kuota itu diberikan tanpa memandang jenis, sifat, karakter, profesi dan segmen lain yang melengkapi dunia.
Namun dari kesempatan yang diberikan, tidak semua orang dapat menggunakan dan memanfaatkan jatah yang diberikan pada hal-hal positif.
Diperlukan strategi jitu untuk sekedar mengelola dan men setting bagaimana kesempatan yang ada dapat menghasilkan karya produktif di segala bidang.
Apapun latar belakangnya, apapun hobi dan bakatnya, waktu yang telah disediakan harus dimanfaatkan sebaik mungkin baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.
Konsep hidup produktif sebenarnya dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja, kesemuanya hanya bermodal kemauan bertindak dan kegigihan dalam menolak pelbagai halangan dan hambatan.
Mengapa itu penting? Ya, karena jika tanpa kemauan dan upaya maksimal, mustahil sebuah karya akan dihasilkan. Begitu juga jika kemauan itu tidak diimbangi dengan kegigihan menolak godaan, tidak mungkin sebuah prestasi dapat terealisasi.
Maka hidup produktif bagi kaum millenial menjadi urgen karena dunia kini membutuhkan itu, dan era ini berkaitan dengan itu.
Mari berkarya.
Namun dari kesempatan yang diberikan, tidak semua orang dapat menggunakan dan memanfaatkan jatah yang diberikan pada hal-hal positif.
Diperlukan strategi jitu untuk sekedar mengelola dan men setting bagaimana kesempatan yang ada dapat menghasilkan karya produktif di segala bidang.
Apapun latar belakangnya, apapun hobi dan bakatnya, waktu yang telah disediakan harus dimanfaatkan sebaik mungkin baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.
Konsep hidup produktif sebenarnya dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja, kesemuanya hanya bermodal kemauan bertindak dan kegigihan dalam menolak pelbagai halangan dan hambatan.
Mengapa itu penting? Ya, karena jika tanpa kemauan dan upaya maksimal, mustahil sebuah karya akan dihasilkan. Begitu juga jika kemauan itu tidak diimbangi dengan kegigihan menolak godaan, tidak mungkin sebuah prestasi dapat terealisasi.
Maka hidup produktif bagi kaum millenial menjadi urgen karena dunia kini membutuhkan itu, dan era ini berkaitan dengan itu.
Mari berkarya.
Rabu, 19 Februari 2020
PENDAMBA RAHASIA
"Haaaa .... Ia akan tampil, Bara akan perform". Jerit lengking
Mary siang itu kegirangan.
Sambil berlari menuju sekumpulan geng girl nya di balkon
kamar asrama yang sedang ngerumpi sambil makan cilok Pakde Mol yang dibeli saat
pulang sekolah seraya menunjukkan selebaran pengumuman tentang para finalis
musabaqah tahfidz alfiyah (MusTahfa) tingkat aliyah yang ia ambil dengan
"paksa" dari papan pengumuman.
"Nih temen-temen, ia akan tampil, aduh ... senengnya, jadi
nggak sabar bakalan liat sang idola tebar pesona nih saat perform dalam ajang
muhafadzah nanti", Sambung Mary menjelaskan pada teman-temannya yang belum
semuanya mengerti akan maksud Mary.
"Lo ngomong apa sih Mar?" Tanya salah satu teman Mary
yang biasa paling kepo di antara yang lainnya.
"Eh ... eh ... eh ..., Tau nggak girl, si Bara, dambaan
rahasia gue, ia lolos masuk ke babak final dan akan tampil lusa di aula al
Hasan" terang Mary pada mereka, "Aduh senengnya ... Gue bakalan jadi
penonton terdepan, dan jadi suporter utamanya Bara" lanjut Mary
meneruskan.
Musabqah Tahfidz Alfiyah
(MusTahfa) adalah kompetisi menghafalkan nadzam alfiyah (ilmu gramatika Bahasa
Arab yang disusun dalam bentuk bait-bait atau nadzaman), sebuah ajang bergengsi
di Madrasah Aliyah Pesantren tempat di mana Mary menuntut ilmu. Peserta yang
lolos melaju ke babak final adalah santri-santri pilihan yang telah mengikuti
proses yang super duper ketat. Bukan hanya kelihaian dalam menghafal
nadzam-nadzam alfiyah saja yang dibutuhkan, kesiapan mental dan manajemen waktu
juga dituntut di ajang yang digelar setahun sekali ini. Karena kompetisi ini
jadi ajang bergengsi, maka pada babak final, para peserta grand final
akan tampil di depan para santri putra dan putri, sebuah kesempatan dan
pemandangan yang tak biasa di pesantren, satu acara diikuti santri putra dan
putri secara bersamaan, saat inilah mental peserta benar-benar diuji.
Di antara santri yang beruntung itu adalah Bara, Ia selalu lolos
dalam mengikuti kegiatan MusTahfa setiap kali digelar, Ia seolah sudah menjadi
langganan juara tiap tahunnya. Dua tahun yang lalu, saat kelas satu, Ia
menyabet juara dua. Namanya semakin membumbung tinggi dan bersinar saat tahun
lalu Ia mewakili kelas dua meraih juara pertama. Tahun ini, apakah Ia akan
mampu mempertahankan gelar jawaranya setelah ia lolos masuk ke babak final?
Lusa jawabannya pada kegiatan MusTahfa.
Mary berharap, Ia akan duduk paling depan untuk menyaksikan performa
Bara di ajang bergengsi tersebut, saking semangatnya, sampai Ia lupa kalau
salah satu rival Bara adalah Diyah, teman se-gengnya. Untung buru-buru ia
diingatkan Janny teman gengnya yang lain.
"Jangan lupa Mar!! Diyah juga ikut ajang itu lho .....! Masak
lo cuman kasih suport ke Bara doang, Diyahnya lo lupain!" Celetuk Janny
mengingatkan.
"Iya ya ..... Gue lupa!!" Ujar Mary sambil tepuk jidat
tanda baru ingat. "Gue bakalan suport Diyah juga kok! Tenang aja!"
Tos ...., Tosnya disambut teman-temannya yang lain.
"Tapi, Bara tetap jadi fans berat gue lho ...., Lalu Diyah?
Nomor 1 b deh!!! Hehe ..... " gumam Mary dalam hati.
Bara, adalah nama panggilan dari salah satu santri putra bernama
lengkap Ahmad Mubaraki, kini ia digandrungi oleh banyak santri putri,
kecerdasannya dalam bidang menghafal alfiyah menghantarkan ia banyak dikenali
tidak hanya para guru dan pengurus pondok, namun juga para santri, terlebih
santri putri. Perawakan yang tinggi, tegap dan berparas mirip pesinetron
Aliando Syarif menjadikan ia mudah untuk dikenali sekaligus gampang mengundang
pendamba rahasia lainnya, termasuk Siti Maryam atau biasa dipanggil Mary.
Dua hari berlalu, banner berukuran besar terbentang lebar di
belakang panggung megah itu. Panggung berukuran 5x8 meter dengan tinggi
setengah meter itu menambah sakral dan tegang dilengkapi dengan beberapa lampu
sebagai penanda pengaturan waktu.
Di depan panggung yang didominasi warna hijau tua itu juga tertata
beberapa meja dewan penguji lengkap dengan palu besarnya, ya palu besar yang
digunakan untuk mengetuk edit saat peserta salah dalam melafalkan bait-bait
yang diperlombakan.
Jika palu edit itu diketukkan, "Dhok ... , Aduh ... "
serasa seisi ruangan ikut bergetar. Peserta? Jangan tanya, kalau tidak siap
mental, bisa buyar konsentrasinya atau bahkan kadang bisa hilang sama sekali
telah sampai mana bait yang dilantunkan.
Setting para audiensi
juga ditata oleh pihak OSIS sedemikian rupa, jadi meski MusTahfa berlokasi di
aula al Hasan yang sangat luas, penonton dari santri putra dan putri tidak
bakalan bisa bertemu secara langsung kendati hanya kontak mata saja, kecuali
hanya dengan para peserta lomba saja.
Satu demi satu penonton tiba di lokasi memenuhi ruang penonton.
Area depan telah terpenuhi terlebih dahulu, tak seperti saat ngaji yang pada
berebut mundur. Seperangkat yel-yel dan aneka atribut sebagai dukungan pada
duta kelas masing-masing pun tengah dipersiapkan, tak terkecuali Mary, bahkan
ia bawa dua kardus berukuran besar, yang dihias sebegitu apik dan cantiknya
demi dan untuk sang idola, Satu untuk Bara dan satu lagi untuk temannya, Diyah.
Udara cukup sejuk, enam buah AC besar yang terpasang di beberapa
sudut aula mampu mendinginkan udara sekaligus suasana jelang acara dimulai.
Mata kantuk Mary semakin terlihat akibat semalaman begadang untuk membuat
properti suporter dari kardus.
Acara dimulai, serangkaian seremonial panjang berupa
sambutan-sambutan mulai dari panitia penyelenggara, kepala Madrasah, waka
kurikulum, pihak yayasan dan seterusnya yang lebih terkesan seperti lomba
pidatopun semakin membuat penasaran tidak hanya pada penonton namun juga para
peserta, maklum, karena nomor urut tampil baru diundi setelah tata tertib lomba
dibacakan.
Dan tibalah pada sesi pengambilan undian nomor urut tampil yang
membuat semua orang di ruangan itu merasa deg-degan. Tanpa tahu urutan tampil
lainnya, yang Mary ingat hanya Bara maju diurutan ke 4, sedangkan Diyah maju
pada urutan hampir terakhir, yaitu nomor urut 8. "Lumayanlah, setelah Bara
tampil, bisa nyicil tidur bentar sembari nunggu Diyah tampil". Pungkas
Mary sambil merapikan properti suporternya.
Memang, pagi itu Mary terlihat paling ribet dan paling semangat di
antara teman-teman santri putri lainnya. Ribet karena membawa dua properti
sekaligus, dan semangat karena dua jagoannya akan tampil.
Mary sempat bingung, satu sisi ia berharap idolanya juara, di sisi
lain ia juga ingin Diyah yang menang karena sesama teman geng. Bara adalah
saingan terberat Diyah pada tahun ini.
Tanpa memperhatikan tampilan pertama sampai ke tiga, tiba pada
urutan tampil ke empat, "Bara ... Bara ... Bara ...", Suara lantang
datang dari penonton putri. Siapa lagi kalau bukan Mary. Teman-temannya pada
sibuk meredakan semangat Mary yang berlebihan dan kelewat batas disambut dengan
sorakan penonton dari santri putra yang menilai lebay dengan sikap Mary.
"Mar jangan gitu ah, malu sama yang lain, lihat tu! Pak waka kesiswaan
melototin lo, bakal terkena kasus lo nanti". Ujar Jannah pada Mery.
Tanpa menghiraukan peringatan dari teman se-gengnya, juga tanpa
mempedulikan kode dari Waka kesiswaan yang bertugas mengkondisikan jalannya
acara saat itu, sambil membawa properti suporter, secara refleks Mary naik ke
atas panggung untuk memberikan semangat secara langsung kepada Bara. Rasa kaget
dan heran nampak jelas di raut muka Bara saat itu. Mungkin ia bingung, santri
putri ada yang sampai berani memberikan dukungan yang tak biasa seperti ini.
Semua terdiam keheranan, teman se-gengnya, Waka kesiswaan, para
dewan juri, seluruh penonton baik santri putra maupun putri, heran sekaligus
mungkin ada rasa malu yang menyusup pelan. Ya ... Semua terdiam, hanya tersisa
suara bising halus AC dan sound di panggung, juga detik jam di sebelah panggung
megah itu.
Memecah keheningan, masih ada Mary yang jingkrak-jingkrak kegirangan
dan semangat membara di sekitar Bara yang sedang duduk di kursi panas sambil
diam terpaku. " Kok ada santri putri dengan prilaku demikian?" Batin
Bara dengan penuh keheranan.
Teman se-gengnya juga pada tertegun. "Mengapa Mary bisa
senekad itu?, Walaupun Mary paling supel dan selalu paling heboh di gengnya,
tapi seharusnya tidak sampai seperti itu! bukan Mary deh kayaknya itu".
Ungkap teman Mary sesama geng.
"Mary, turun kamu!" Bentak keras Waka kesiswaan.
"Sebagai seorang santri putri, tidak pantas kamu bertindak demikian".
Lanjut waka kesiswaan sambil marah-marah.
"Hanya kasih suport doang kok pak, nggak lebih ...."
Sahut Mary menimpali.
"Tapi bukan seperti itu caranya!". Jawab waka kesiswaan
dengan tegas.
"Udah Mary, buruan lo turun, jangan sampai karena insiden ini,
acara MusTahfa diskors atau bahkan dihapus". Seru teman-teman geng Mary.
"Nggak!! Gue akan tetap kasih semangat dan dukungan pada Bara
di sini, Bara kudu menang tahun ini, harus, titik". Ujar Mary yang semakin
menjadi-jadi.
"Mary!!!!" tepukan sedikit keras yang ke tiga mendarat
pada pundak sebelah kiri Mary.
"Jangan bengong aja lo, itu Bara sedang tampil, katanya mau
suport dan kasih yel-yel spesial buat dambaan rahasia lo". Ujar Janny
mengingatkan.
Seketika tepukan Janny menyadarkan Mary dari lamunannya. Mary
merasa lega insiden tadi cuma hayalan halusinasi dia saja. Untung saja, rasa
kagum, rasa mendamba, nge-fans berlebih pada sang idola masih terkontrol dengan
ketaatan pada tata tertib pondok, kode etik sekolah, takdzim pada para guru dan
kiai, juga nasihat dari para sahabat yang mewarnai dan menuntun jalan Mary
selama ini.
Sementara itu, Bara dengan lancar dan tenang di atas panggung melantunkan
nadzam-nadzam alfiyahnya, dan Mary entah sampai kapan akan tetap menjadi
pendamba rahasia Bara.
Rabu, 14 Agustus 2019
MAKNA HASTAG MU KEREN LUAR DALAM
Di
sebuah sudut, terdapat sebuah sekolah dengan mutu yang sangat bagus, aneka
ragam materi dan kurikilum dikelola dan diberikan secara professional, namun
karena semua dilaksanakan secara sederhana dan terkesan apa adanya tanpa disertai
brand yang mendukung, sekolah tersebut pun tidak banyak diketahui orang dan
akhirnya sepi peminat sehingga tidak banyak menebar kebaikan, ibarat kata,
bagaikan mutiara yang terpendam. Kini kabar sekolah tersebut telah dilupakan,
tenggelam dan hilang.
Konsep
berpikir yang konservatif dan kekhawatiran yang tinggi terhadap sebuah
perubahan menjadikan sekolah ini stagnan dan sulit untuk berkembang meski
sebenarnya mereka mampu karena memiliki potensi yang luar biasa.
Gambaran
pertama dapat dikatakan keren di dalam namun tidak di bagian luar, dampak yang
dihasilkan adalah sekolah tersebut berjalan di tempat dan tidak banyak menebar
kebaikan.
Di
bagian sudut yang lain. Terdapat sebuah sekolah yang memiliki banyak inovasi
dan brandid, semua kegiatan dan kurikulum dibalut dengan kemasan yang modern
dan kekinian. Program yang dijalankan tidak pernah luput dari liputan dan tentu
juga di publish ke dunia maya yang tak terbatas jangkauan pasar pendidikannya.
Semua costumer akademik banyak tergiur dengan cassing yang mereka ciptakan dan mengundang
banyak sekali wali murid yang ingin masuk di dalamnya.
Namun
para pengelola sekolah tersebut lupa, mereka hanya terkonsentrasi pada kulitnya
saja tanpa perbaikan kualitas dari kurikulum dan materi yang disampaikan. Semua
kegiatan dan proses belajar mengajar yang dilakukan tidak lebih sekedar
settingan dan skenaris yang disutradarai oleh kepala sekolah. Orientasinya
adalah bagaimana sekolah tersebut bisa besar dan banyak dikenal orang meski
banyak "sandiwara pendidikan" di dalamnya.
Gambaran
ke dua ini dapat dikatakan keren di luar namun tidak di bagian dalam. Korban
utama dari tipikal sekolah ke dua ini adalah konsumen yang dalam hal ini adalah
wali murid dan siswa itu sendiri. Karena pendekatannya bersifat persuasif,
banyak pelanggan yang masuk kemudian tertipu, ternyata di dalamnya tak ubahnya
kegiatan biasa dan kurang berkualitas namun di pakaikan topeng untuk
"mengelabuhi" dan menarik peminat dari luar, sungguh ironis.
Berkaca
pada dua model sekolah di atas, MU PPMM mempunyai keinginan kuat untuk menjahui
dua tipikal sekolah tersebut, yaitu dengan mengusung tema MU keren luar dalam.
Tidak
hanya berkualitas dari sisi akedemik dan proses pembelajarannya, namun juga
dipikirkan bagaimana kualitas itu tampak dan dapat dilihat oleh pelanggan
secara langsung agar dapat menarik perhatian dan banyak yang akan ikut
bergabung. Untuk bisa dilihat oleh publik, tentu diperhatikan pula bagaimana
prestasi-prestasi itu dikemas agar dapat diterima masyarakat secara apik.
Syiar
Islam dan menebar kebaikan dengan pangsa pasar luas tak terbatas menjadi
motivasi utama semangat ini. Konsumen pendidikan yang melihat kemudian tertarik
untuk masukpun tidak akan merasa tertipu dan dibohongi dengan jargon-jargon
bujukan yang selama ini didengungkan, tapi mereka akan melihat secara nyata dan
menerima apa adanya mutu pendidikan yang ada di dalamnya.
Misalnya,
sertifikat yang diberikan pihak madrasah kepada para siswa atas prestasinya
menyelesaikan hafalan 250 bait sebelum idhul adha merupakan apresiasi branding,
penghargaan itu bukan hanya formalitas namun juga harus benar-benar mewakili
kualitas siswa tentang prestasi yang ia terima.
Ujian,
cerdas cermat, lomba hafalan dan sederet aktifitas akademik lainnya merupakan
kegiatan biasa pengasah prestasi di sekolah, namun untuk meningkatkan semangat
dan agar dilirik banyak pihak, maka aneka kegiatan tersebut harus dipoles
sedemikian rupa agar terlihat modern dan kekinian. Selain untuk mengasah
kualitas para siswa juga dapat dijadikan media promosi madrasah ke pihak luar.
Baron,
14/8/2019
@myh
Selasa, 13 Agustus 2019
RITUAL SHOMADIYAH Antara Kuantitas dan Kualitas
Kegiatan yang mengemuka saat jelang tanggal sepuluh Dzulhijjah
adalah tentang fadhilah puasa tarwiyah, arafah dan juga ritual bacaan
shamadiyah, sebagaimana disampaikan dalam keterangan tersebut, bahwasannya
barang siapa yang membaca surat al ihlash 1000 kali di sore hari tanggal 09
dhulhijjah atau hari arafah, maka Allah akan mengabulkan segala permintaannya.
Dari situ, dapat kita ketahui, dalam fadhilah tentunya
yang diharapkan tidak hanya persoalan berapa nominal bacaannya, namun juga
bagaimana ritual itu dibaca, ada aturan-aturan tertentu yang harus diikuti oleh
si pembaca, karena surat yang dibaca juga termasuk bagian dari ayat-ayat al Qur’an.
Di lapangan banyak ditemui, para santri dalam mengamalkan
bacaan tersebut hanya terfokus pada berapa bacaan yang ia peroleh tanpa
menghiraukan bagaimana kualitas bacaannya meski tidak sampai membatalakan
hasilnya, apalagi jika kegiatan tersebut dilakukan sesaat sebelum pulang
berlibur, tergesa-gesa dan diliputi perasaan tidak tenang dalam
pelaksannaannya.
Kita lupa, sebenarnya ada banyak waktu, tenaga dan
kesempatan yang dibuang untuk melakukan aktivitas tersebut, tentu kita akan
merasa rugi, ternyata hasil yang diperoleh tidak semaksimal apa yang kita
harapkan hanya karena kita terlalu fokus pada jumlah yang dikejar tanpa
memikirkan kualitas dari bacaan tersebut. Wallahu a’lam.
@myh
Langganan:
Postingan (Atom)