Minggu, 21 Januari 2024

Bertani di Ladang Maya: Kehidupan Seorang Dosen di Lingkungan Petani

Di tengah ladang yang tak tampak oleh mata, terdapat seorang dosen dan tenaga kependidikan yang menjalani kehidupan uniknya. Mereka bukan petani sejati di ladang yang hijau, melainkan petani di ladang maya yang berbeda. Bermodal laptop dan koneksi internet, mereka menabur benih pengetahuan, berharap dapat panen ilmu yang melimpah.

Lingkungan tempat mereka berada mayoritas dihuni oleh para petani yang menggantungkan hidup pada pertanian. Kesenjangan antara profesinya sebagai pendidik dengan mayoritas pekerja di sekitarnya terlihat jelas. Saat berkumpul dan bercengkrama, seringkali percakapan terasa tidak nyambung. Petani membicarakan urusan tanaman, panen, dan cuaca, sementara sang dosen dan tenaga kependidikan membawa topik tentang riset, perkuliahan, dan perkembangan teknologi.

Waktu menjadi tantangan utama. Aktivitas mengajar di kampus membuat mereka sibuk di siang hari. Baru pada malam hari, ketika kegelapan mulai menyelimuti desa, mereka memiliki waktu luang. Namun, malam bukanlah waktu untuk bersantai semata. Di antara gemerlap bintang, mereka menyambung hidup di ladang maya mereka.

Malam hari digunakan sebagai waktu untuk bertani, namun tanah yang mereka olah bukanlah tanah nyata. Dengan laptop sebagai cangkul digital dan wifi sebagai bibit koneksi, mereka membajak dan menanam di dunia maya. Materi perkuliahan disusun, penelitian dilakukan, dan modul pembelajaran diperbarui. Ladang maya mereka bukan hanya lahan penghasil ilmu, melainkan juga tempat untuk menyebarkan benih pengetahuan kepada para mahasiswa.

Pertanian di dunia maya ini tidak selalu memberikan hasil yang pasti. Terkadang, ada tantangan teknis, seperti masalah koneksi internet yang lambat atau server yang down. Namun, dengan kesabaran dan ketekunan, mereka terus bertani di ladang maya, percaya bahwa panen ilmu yang dihasilkan akan membawa perubahan positif.

Sebagai petani di dunia maya, mereka berharap hasil panen mereka dapat memberikan manfaat nyata. Ilmu yang disemai di ladang maya tidak hanya berdiam di sana, melainkan diharapkan dapat menjadi pencerah bagi masyarakat sekitar. Meski terkadang terasa terisolasi dari topik pembicaraan sehari-hari, mereka yakin bahwa ladang maya mereka akan menjadi penopang masa depan yang lebih cerah.

Dalam kegelapan malam, ketika kebanyakan orang telah beristirahat, dosen dan tenaga kependidikan ini tetap setia pada ladang maya mereka. Meskipun tak bersua matahari, mereka yakin bahwa setiap tetes keringat yang jatuh di ladang maya akan menjadi penyiraman untuk tumbuhnya generasi yang penuh dengan pengetahuan dan pemahaman yang lebih luas tentang dunia ini. Semoga, di ladang maya itu, benih-benih yang ditanam hari ini akan menjadi pohon besar yang memberikan rindang di masa depan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar