Minggu, 02 April 2023

JANGAN MENILAI SECARA GENERALIS

Menjustice seseorang secara umum memang tidak baik, karena dalam praktiknya penuh dengan kecacatan di sana sini. Banyak ditemui ketidak sesuaian antara penilaian dan realita. 

Kebanyakan dari kita pandai menilai seseorang hanya dari fisiknya saja tanpa terlebih dahulu membuktikan bagaimana kontennya, banyak dari kita menerka seseorang hanya dari katanya, bukan dari faktanya. 

Kesimpulan dini semacam ini di banyak kasus menemui kegagalan yang berdampak pada diri sendiri. Gambaran ini saya tangkap dengan baik melalui kejadian yang saya alami secara pribadi. 

Pada suatu waktu, sepulang dari belanja buku untuk keperluan perpustakaan kampus, waktu menunjukkan pukul 01.30 dini hari, Malam itu saya bergegas langsung pulang karena besok pagi sudah harus berangkat kerja lagi. 

Di tengah perjalanan, saya terkaget karena motor yang saya pakai tetiba berhenti dan mesin mati. Ada apa gerangan? Dugaan kuat mengemuka dengan segera saya tepis, bensin habis. Sepersekian detik, disusul dengan ingatan tajam, MasyaAllah, jarum spidometer dari kemarin kan mati!. Kesimpulan akhir menebal, bensin benar-benar habis, saat berangkat sore kemarin jadwalnya isi bahan bakar tapi saya kelupaan. 

Pasrah, motor saat itu langsung saya tuntun dengan perjalanan kurang lebih 7 km. sebuah Perjalanan dini hari yang cukup panjang. Dan saya bermaksud berjalan langsung menuju SPBU Baron. 

Di tengah perjalanan, sempat bertemu beberapa orang yang sedang nongkrong di pos ronda kampung, namun hanya menyapa karena sudah tidak ada toko ecer yang buka malam itu. Mereka mengamati dengan tebakan kuat, pengendara kehabisan bensin. 

Dalam perjalanan itu, ketakutan seketika menyerang, karena di perempatan jalan itu terlihat hewan berjalan. Dari sosoknya, tidak mungkin kambing jalan-jalan tengah malam seperti ini, dugaan menguat, seekor anjing berkeliaran yang semoga bukan anjing galak.

Setelah berpapasan, anjing itu terhenti dan mengamati saya sejenak di seberang jalan, entah bacaan apa saja yang saya baca saat itu saking takutnya, sejurus kemudian, anjing itu melanjutkan perjalanannya melewati saya. Ahgh... lega rasa hati melebur sesaat rasa linu telapak kaki akibat berjalan cukup jauh. 

Perjalanan berlanjut, ketakutan kembali menyerempak, dua sepeda motor dengan pengendara anak muda terlihat lamat-lamat dari kejauhan, suara khas dua motor CB itu memecah kesunyian malam dan sesekali terdengar guyonan mereka meski jaraknya masih cukup jauh. Jangan-jangan sekumpulan pemuda mabuk yang pulang dari pesta mirasnya, pikiran kerdil saya menyeruak. 

Saat hampir berpapasan, suara mereka terdiam, hanya suara motor yang sedikit memekakkan telinga saja yang memenuhi keheningan malam itu, lagi-lagi, sempat bertatapan mata dengan beberapa dari mereka, dan mereka terus melaju melewati saya hingga suara motor mereka menjauh tak lagi terdengar. 

Selang beberapa saat, suara satu motor berkarakter sama dengan motor yang lewat tadi merendah menghampiri saya, suara ajakan anak muda menghancurkan kecamuk pikiran dan tubuh saya yang mulai berkeringat, "Mari mas, motornya saya dorong hingga SPBU Baron, sepertinya masih buka tadi", 

Kekagetan saya mengaburkan rasa takut saya seketika, saya menoleh dan benar saja, salah seorang pemuda tak dikenal kembali dari kejauhan demi menolong saya. Ya, dia adalah salah seorang pemuda yang lewat tadi dan sempat saya duga pemabuk yang hendak pulang. 

Motor saya pun didorong dengan posisi saya menaiki motor saya, selama dalam perjalanan saya belum sempat menanyai identitas pemuda itu, karena terganggu suara keras motornya, hanya terdengar sekali ia bertanya, "Dari mana mas?" Tanya ia samar-samar di tengah kebisingan. "Dari Jogja", Jawab saya singkat. Jawaban itu seolah menutup dialog kami. Perjalanan pun berlanjut dan hanya itu percakapan kami. 

Hingga akhirnya mendekati SPBU, pemuda itu berkata, "Sampun geh mas!". Seruan itu belum saya jawab karena saya hendak memberikan sebagian oleh-oleh dari jogja, namun saya tertinggal darinya karena ia langsung berbalik dengan segera, mungkin karena ditunggu teman-temannya tadi. 

Kejadian ini menampar saya, karena di awal sempat menduga mereka yang tidak-tidak, bahkan mereka menolong saat saya benar-benar membutuhkan bantuan. 

Bagi pemuda yang menolong saya malam itu, saya berhutang budi dengan anda, saya berharap suatu hari nanti dapat bertemu dengan Anda, entah bagaimanapun caranya. Di manapun anda berada, semoga sehat selalu dan dimudahkan urusannya serta segera mendapat bantuan jika sedang dalam kesulitan sebagaimana saya saat anda tolong malam itu. 


Baron, 02 April 2023


Sabtu, 01 April 2023

JANGAN UMBAR MIMPIMU

Setiap hari, kita akan dihadapkan dengan target-target yang harus diselesaikan, bisa berupa target yang dipatok orang lain atau target yang kita pasang sendiri, semua bermuara pada sebuah tujuan yang hendak dicapai. 

Untuk meraih sebuah mimpi, terkadang kita harus melalui sebuah proses panjang untuk memantaskan mimpi itu dapat teraih, pemantasan ini harus benar-benar dijalani untuk tidak dikatakan sebagai proses yang instan. 

Komitmen kuat dalam pencapaian sebuah goal amat sangat dibutuhkan, hingga tujuan itu benar-benar diraih. Aneka godaan harus ditepis dengan sekuat tenaga karena hanya akan menjadi kerikil penghalang laju perjalanan. 

Dalam menjalani proses panjang itu, bayang-bayang keberhasilan terkadang sedikit banyak mulai tampak, dalam kondisi ini, acap kali kita tidak sabar untuk segera menceritakan kepada orang lain, yang kerap kali motivasinya adalah hanya untuk pamer. 

Dampak akan hal ini, meski tidak sepenuhnya salah, namun mayoritas akan berefek kurang baik terhadap diri sendiri dan juga pada proses pencapaian mimpi itu sendiri. Tentu tidak lucu seandainya tujuan itu gagal di tengah jalan, sedang beritanya tengah menyebar seantero medan. 

Melihat itu, hikmah yang dapat dipetik, jangan ceritakan rencana dan proses yang hendak kita targetkan, biarkan prosesnya berjalan dalam senyap dan hasil yang akan meriuhkannya ke khalayak, situasi semacam ini akan menjadikan pelaku tampil dengan sangat berkelas. 


Sabtu, 01 April 2023

Jumat, 31 Maret 2023

NIKMATI PROSESNYA

Setiap apa yang kita lakukan, merupakan sebuah proses yang pada gilirannya akan ada hasil atau dampak yang kita tuai, entah berdampak baik atau buruk. 

Karena semua hal yang kita lakukan akan memberikan akibat tertentu, maka apa yang hendak kita lakukan harus benar-benar dipikirkan masak-masak agar tidak muncul penyesalan di kemudian hari. 

Di antara kiat untuk menjalani itu semua adalah dengan menikmati proses tersebut sembari diamati dan dianalisa apakah kita sudah berada di lajur yang benar. 

Menjalani proses dengan pelan tanpa tergesa-gesa, dinikmati alurnya, penuh rasa syukur, sarat pemaknaan akan menjadikan hidup kita semakin berkualitas, waktu akan berjalan dengan penuh hikmat dan nikmat. 

Banyak rutinitas yang dapat kita lakukan dengan menerapkan konsep ini, menjalani pekerjaan, mengantar anak sekolah, bebersih rumah, melakukan perjalanan, berkumpul dengan keluarga dan tetangga, melaksanakan ritual ibadah dan lainnya. Semua akan berasa sekali jika dilalui dengan penuh rasa syukur dan dinikmati dengan pelan-pelan. 

Tergesa-gesa dalam melakukan sesuatu biasanya akibat perilaku sebelumnya, entah karena menunda-nunda, tidak serius, kurang fokus atau bahkan dikerjakan dengan konsentrasi yang rendah. 

Menciptakan hidup yang berkualitas memang tidak gampang, meski dalam agama telah diajarkan, namun dalam pelaksanaannya penuh dengan godaan. Hanya komitmen diri dan prinsip hidup terpatri dalam hati yang bisa diandalkan agar laju kita standar sebagaimana marka agama. 

Menyikapi setiap masa sebagaimana anjuran agama amat penting untuk dilakukan, mentaubati dengan istighfar setiap khilaf di masa lalu, senantiasa bersyukur atas limpahan nikmat yang kita terima di masa kini, dan melandasi dengan doa pada aktivitas di masa nanti. 

Mari jalani hidup ini dengan penuh rasa syukur sebagai proses menuju negeri abadi yang diridlai ilahi rabbi. 


Jum'at, 31 Maret 2023


Rabu, 29 Maret 2023

TERMA ITU PENTING

Kerap terjadi saat proses PPDB di tingkat salafiyah adalah kondisi di mana siswa turun ke kelas yang dituju berdasarkan kemampuan melalui jalur tes. 

Dan tak jarang, ekspresi calon siswa atau bahkan orang tua berubah seketika kala mendengar informasi awal harus "turun kelas" dari petugas pendaftaran, terlebih calon santri. Di tengah jelang adaptasi, harus menerima "justice sosial" berupa "turun kelas".

Sebuah respon yang wajar mengingat kondisi yang ada dibenak calon siswa dan juga orang tua adalah kondisi real di rumah, setamat dari SD/MI maka jenjang selanjutnya adalah MTs. 

Siswa yang hendak masuk di kelas jenis salafiyah hampir dipastikan semuanya bakal "turun kelas", kendati para siswa yang berasal dari madrasah Krempyang sekalipun. 

Tepatkah terma "turun kelas" dipakai di sana? yang kerap kali membikin gamang calon santri yang hendak masuk ke madrasah salafiyah? Mari kita bedah! 

Nama tingkatan yang dipakai baik salafiyah maupun kurikulum kemenag adalah sama, sama-sama MI dan MTs, hanya tingkat MA dan MU saja yang beda, dari perbedaan di tingkat atas inilah bisa dijadikan barometer. 

MI salaf dan MI kurikulum Kemenag adalah sama dalam istilah namun beda dalam materi, kurikulum, tuntutan, lulusan dan juga usia. Sehingga lulusan MI kurikulum yang masuk ke MI salaf kurang pas jika dikatakan "turun kelas", karena jenjangnya pun tidak setara. 

Di lingkungan Kemenag bidang PD pontren, sebenarnya telah berlaku nomenklatur yang sudah populer dan cukup familiar, yaitu tingkat ula, wustha dan ulya. Terma ketiganya juga digunakan untuk mengkategorikan tingkatan berdasarkan jenjangnya. 

Di madrasah Krempyang, yang telah berlaku masih di tingkat atas saja, yaitu ulya, alangkah lebih baik juga diberlakukan di jenjang bawahnya, maka secara hierarkis akan tersusun menjadi Madrasah ula, Madrasah wustha dan Madrasah 'ulya, bukan lagi MI, Mts dan Madrasah 'Ulya. 

Dengan mengacu pada lebel jenjang tersebut di atas, maka tidak ada lagi istilah "turun kelas", karena calon siswa setelah dites, kemampuan yang dimiliki akan menghantarkannya masuk ke jenjang ula, wustha atau bahkan ke ulya. 

Selain itu, penggunaan istilah ula, wustha dan ulya dengan sendirinya akan mengikis pemakaian istilah "Kurikulum" pada jalur formal yang selama ini dijadikan pembeda dengan jenjang salafiyah.

Seperti diketahui, terma "kurikulum" sebagai representasi dari madrasah formal cukup membingungkan banyak orang ketika diucapkan di luar lingkungan madrasah Krempyang atau calon santri dan wali santri saat daftar sekolah dan mondok. 

Maka dari itu, jika masih menggunakan istilah-istilah sebagaimana yang berlaku selama ini di madrasah, petugas harus benar-benar bisa menjelaskan kepada calon wali dan santri agar mereka bisa paham tanpa salah atau gagal paham. 

Atau istilahnya bisa kita ubah, mengingat di Krempyang sudah ada  tingkat Ulya di muadalahnya, maka akan sangat tepat jika bawahnya berganti Ula dan Wustha, sehingga di jenjang salafiyah berlaku tingkatan Ula, Wustha, dan Ulya. 


@myh

Selasa, 28 Maret 2023

CATAT IDEMU

Ide merupakan gagasan atau konsep kreatif yang muncul dalam pikiran seseorang sebagai hasil dari proses berpikir. Ide bisa datang kapan saja di mana saja, bisa berwujud sebuah rencana, inovasi, strategi, atau gagasan-gagasan lain yang muncul sebagai solusi untuk suatu masalah atau untuk menciptakan sesuatu yang baru.

Ide bisa datang dari berbagai sumber, seperti pengamatan, refleksi, diskusi, atau bahkan mimpi. Ide bisa menjadi awal dari proses kreatif yang menghasilkan karya-karya seperti seni, sastra, teknologi, atau inovasi bisnis.

Karena ide kerap datang kapan saja tanpa melihat waktu, acap kali ide hanya terlintas di benak dan pikiran kemudian sirna sebelum eksekusi dilakukan. Maka ide brilian yang datang harus segera disikapi sebelum benar-benar hilang. 

Menyikapi akan hal itu, maka ide yang muncul harus segera diikat dengan tulisan. Seandainya ide itu mencuat di saat yang belum memungkinkan untuk segera dieksekusi, catatan menjadi media terbaik untuk menyimpannya terlebih dahulu, baru saat kesempatan itu datang, ide bisa dilakukan. 

Mencatat bisa dilakukan di pelbagai media konvensional semisal buku, jurnal, secarik kertas dan lain sebagainya, juga bisa dicatat di media digital seperti gawai, blog, email dan lainnya. 

Saya sendiri, jika ide tersebut tiba-tiba terlintas di pikiran, segera saya keluarkan handphone saya lalu mencatatnya pada aplikasi note yang saya miliki, di sana banyak juga list ide-ide saya baik yang telah tereksekusi maupun yang masih dalam wacana perencanaan. 

Siapa kini yang tidak punya smartphone, gawai cerdas yang memudahkan manusia menjalani aktivitas sehari-hari, di dalamnya dapat diisi dengan aneka aplikasi guna memandu menjalani hari-hari. 

Mari segera kita catat semua ide yang mencuat baik selagi sempat sebelum ide emas itu mengarat dengan memanfaatkan gawai kita sebagai pengingat. 


Baron, 28 Maret 2023

Senin, 27 Maret 2023

TERSENYUMLAH!

Tersenyumlah!, teguran itu kerap sekali menghampiri saya, entah dari sahabat, kolega kerja atau beberapa orang yang perhatian dengan saya, terima kasih atas perhatiannya. 

Karakter saya memang sulit untuk tersenyum, terutama dalam kondisi berpikir serius, efeknya bisa menjalar hingga ke muka, terlihat masam bahkan kadang terlihat garang. 

Kondisi ini benar-benar saya sadari, dan faktanya memang demikian, tidak sedikit saat tertangkap kamera secara hidden, wajah saya terpotret muram, sungguh mengenaskan. 

Melihat kondisi ini, sebenarnya saya tidak tinggal diam, saya menyikapinya dengan banyak hal, di antaranya dengan banyak baca literatur dan artikel berkaitan dengan itu, bahkan tidak jarang saya harus ngobrol dengan gaya full senyum di depan cermin kamar saya, terlihat banget kan upayanya?

Karena pekerjaan saya banyak berhubungan dengan banyak orang, mau tidak mau kondisi ini harus dirubah, karena itu bagian dari pra syarat komunikasi, agar komunikan merasa nyaman berinteraksi dengan kita. 

Saking kerasnya upaya saya merubah karakter ini, sampai-sampai kadang saya merasa ini bukan saya yang sebenarnya. Tebar senyum seolah topeng yang harus saya pasang kapanpun dan di manapun. 

Namun jika perasaan ini datang menghampiri, dengan segera saya menepisnya, karena memang tersenyum harus selalu ditampilkan dan menyungging di bibir ini. 

Untuk sekedar menguatkan dalam persepsi saya, senyum dapat digunakan sebagai upaya sedekah ringan tanpa modal yang perlu dikeluarkan. Karena selain berdampak senang pada yang melihat, juga terasa sekali berpengaruh terhadap kondisi mental dan psikologi saya. 

Selain itu, dengan selalu senyum ini saya gunakan sebagai tabir kondisi hati jika sedang sedih, karena itu tak perlu ditampakkan pada orang lain, cukup dicurhatkan pada Sang manajemen hidup kita, Allah Ta'ala. 


Baron, 27/03/2023

Minggu, 26 Maret 2023

KAIZEN SETIAP HARI

Saya kurang ingat sejak kapan saya mulai mengenal konsep Kaizen ini. Sebuah konsep yang dipopulerkan oleh negara Jepang dan diklaim menjadi kunci kemajuan negara dan masyarakatnya. 

Kaizen kemudian menyebar ke berbagai negara dan menyusup ke berbagai hal. Berubah sedikit demi sedikit, itulah yang saya pahami selama ini tentang metode Kaizen. 

Jika ingin membangun sebuah kebiasaan, menaikkan level makna kehidupan atau mengasah sebuah skill tertentu, maka saya rasa teknik ini akan sangat membantu. 

Konsepnya yang menyentuh perubahan step by step, sedikit demi sedikit hingga si pelaku tidak merasa capek, jenuh dan akhirnya berhenti bertindak. Teknik demikian yang kemudian menjadikan Kaizen menggoda banyak orang hingga ke belahan dunia. 

Dengan dilakukan misalkan semenit setiap hari, lama kelamaan akan menjadi kebiasaan dan dengan sendirinya target akan dapat dicapai dengan tanpa rasa berat, karena hanya dilakukan dengan durasi pendek. 

Memang teknik ini terlihat gampang dari sisi satu menitnya, saking pendeknya, banyak orang meragukan bahkan tidak percayanya akan keberhasilannya. Efek dari tidak percaya itu, akhirnya enggan untuk melakukan, jadinya seolah gagal sebelum bertindak, menyerah sebelum perang. 

Jika dianalisa, memang yang agak berat adalah pada sisi pelaksanaan setiap harinya, dibutuhkan konsistensi dan keteguhan hati dalam melakukannya, dalam konteks ini, latihan semenit menjadi penyeimbang konsep Kaizen. 

Sejak mengenal konsep Kaizen, hari-hari saya banyak tersentuh teknik tersebut, terutama pada upaya membangun pembiasaan positif dan juga pengasahan skill jika ingin belajar hal-hal baru. 

Konsepnya yang mudah dilakukan menjadikan saya berkomitmen untuk mengimplementasikan nya ke pelbagai sendi kehidupan saya, terutama untuk membangun habit yang baru dan positif. Yuk, mari bertumbuh. 

Baron, 26/03/2023