Senin, 27 Maret 2023

TERSENYUMLAH!

Tersenyumlah!, teguran itu kerap sekali menghampiri saya, entah dari sahabat, kolega kerja atau beberapa orang yang perhatian dengan saya, terima kasih atas perhatiannya. 

Karakter saya memang sulit untuk tersenyum, terutama dalam kondisi berpikir serius, efeknya bisa menjalar hingga ke muka, terlihat masam bahkan kadang terlihat garang. 

Kondisi ini benar-benar saya sadari, dan faktanya memang demikian, tidak sedikit saat tertangkap kamera secara hidden, wajah saya terpotret muram, sungguh mengenaskan. 

Melihat kondisi ini, sebenarnya saya tidak tinggal diam, saya menyikapinya dengan banyak hal, di antaranya dengan banyak baca literatur dan artikel berkaitan dengan itu, bahkan tidak jarang saya harus ngobrol dengan gaya full senyum di depan cermin kamar saya, terlihat banget kan upayanya?

Karena pekerjaan saya banyak berhubungan dengan banyak orang, mau tidak mau kondisi ini harus dirubah, karena itu bagian dari pra syarat komunikasi, agar komunikan merasa nyaman berinteraksi dengan kita. 

Saking kerasnya upaya saya merubah karakter ini, sampai-sampai kadang saya merasa ini bukan saya yang sebenarnya. Tebar senyum seolah topeng yang harus saya pasang kapanpun dan di manapun. 

Namun jika perasaan ini datang menghampiri, dengan segera saya menepisnya, karena memang tersenyum harus selalu ditampilkan dan menyungging di bibir ini. 

Untuk sekedar menguatkan dalam persepsi saya, senyum dapat digunakan sebagai upaya sedekah ringan tanpa modal yang perlu dikeluarkan. Karena selain berdampak senang pada yang melihat, juga terasa sekali berpengaruh terhadap kondisi mental dan psikologi saya. 

Selain itu, dengan selalu senyum ini saya gunakan sebagai tabir kondisi hati jika sedang sedih, karena itu tak perlu ditampakkan pada orang lain, cukup dicurhatkan pada Sang manajemen hidup kita, Allah Ta'ala. 


Baron, 27/03/2023

Minggu, 26 Maret 2023

KAIZEN SETIAP HARI

Saya kurang ingat sejak kapan saya mulai mengenal konsep Kaizen ini. Sebuah konsep yang dipopulerkan oleh negara Jepang dan diklaim menjadi kunci kemajuan negara dan masyarakatnya. 

Kaizen kemudian menyebar ke berbagai negara dan menyusup ke berbagai hal. Berubah sedikit demi sedikit, itulah yang saya pahami selama ini tentang metode Kaizen. 

Jika ingin membangun sebuah kebiasaan, menaikkan level makna kehidupan atau mengasah sebuah skill tertentu, maka saya rasa teknik ini akan sangat membantu. 

Konsepnya yang menyentuh perubahan step by step, sedikit demi sedikit hingga si pelaku tidak merasa capek, jenuh dan akhirnya berhenti bertindak. Teknik demikian yang kemudian menjadikan Kaizen menggoda banyak orang hingga ke belahan dunia. 

Dengan dilakukan misalkan semenit setiap hari, lama kelamaan akan menjadi kebiasaan dan dengan sendirinya target akan dapat dicapai dengan tanpa rasa berat, karena hanya dilakukan dengan durasi pendek. 

Memang teknik ini terlihat gampang dari sisi satu menitnya, saking pendeknya, banyak orang meragukan bahkan tidak percayanya akan keberhasilannya. Efek dari tidak percaya itu, akhirnya enggan untuk melakukan, jadinya seolah gagal sebelum bertindak, menyerah sebelum perang. 

Jika dianalisa, memang yang agak berat adalah pada sisi pelaksanaan setiap harinya, dibutuhkan konsistensi dan keteguhan hati dalam melakukannya, dalam konteks ini, latihan semenit menjadi penyeimbang konsep Kaizen. 

Sejak mengenal konsep Kaizen, hari-hari saya banyak tersentuh teknik tersebut, terutama pada upaya membangun pembiasaan positif dan juga pengasahan skill jika ingin belajar hal-hal baru. 

Konsepnya yang mudah dilakukan menjadikan saya berkomitmen untuk mengimplementasikan nya ke pelbagai sendi kehidupan saya, terutama untuk membangun habit yang baru dan positif. Yuk, mari bertumbuh. 

Baron, 26/03/2023

Sabtu, 25 Maret 2023

KEMBALIKAN KE ASALNYA


Dalam menjalani konsep gaya hidup minimalis, memang tidak gampang, selain berkutat dengan diri sendiri yang harus berlatih menerapkan segala prinsipnya, juga berhadapan dengan lingkungan yang belum sepenuhnya mendukung. 

Tampil rapi dan bersih setiap saat adalah dampak nyata dari implementasi gaya hidup minimalis. Kita dengan tanpa sadar akan terlatih tidak nyaman jika barang-barang di sekitar kita berserakan, berantakan dan awut-awutan. 

Dari sekian waktu yang saya pelajari, ada satu kunci untuk memelihara agar ruangan bisa tetap rapi dengan penempatan barang-barang sebagaimana tempatnya, yaitu dengan menerapkan kunci "Kembalikan ke Asalnya".

Setiap selesai menggunakan alat apapun, kembalikan ke tempatnya, jangan sekali-kali berpindah tempat. Selain memudahkan saat dibutuhkan kembali, kunci "kembalikan ke asalnya" akan dapat menekan ruangan berantakan. 

Dengan kunci ini pula, ruangan akan terlihat tertata rapi dan bersih dengan penempatan barang-barang yang fungsional. Jika tengah demikian, membersihkan lingkungan menjadi semakin mudah tanpa rasa malas. 

Prinsip ini saya inspirasi saat masih pendidikan di pesantren dulu, sebuah solusi langkah bersama yang digagas oleh kepala pondok yang sedang frustasi menyikapi barang-barang yang sering hilang tak karuan. 

Dengan konsep ini pula, diberlakukan untuk menyikapi penumpukan benda pakai di pondok yang tidak teridentifikasi siapa pemiliknya.

Setelah dilakukan secara bersama-sama, ternyata konsep jni cukup berhasil sebagai solusi kumuhnya beberapa sudut lingkungan pondok saat itu, selain bersih dan nyaman, konsep ini telah terpatri menjadi suatu kebiasaan bagi kebanyakan para santri yang akan sangat berguna bagi kehidupan mereka. 

Kunci kembalikan ke asalnya kini mulai saya terapkan di manapun, bahkan di rumah bersama keluarga, saya akan uring-uringan jika ada barang-barang tidak ditempatkan semestinya. Bukankah Islam mengajarkan meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya itu kategori dhalim? Dalam konteks ini saya berpegang teguh. 

Menerapkan kunci kembalikan ke asalnya juga bisa diimplementasikan ke pelbagai hal, baik bersikap fisik, digital, pemikiran, bahkan spiritual. Semuanya akan berdampak baik secara langsung maupun berkala. 

Yuk kita terapkan konsep kembalikan ke asalnya ini sebagai medium menjalankan gaya hidup minimalis untuk sekedar meringankan hidup kita. 

Baron, 25/03/2023

Jumat, 24 Maret 2023

LESS IS MORE, AKTIVITAS KEGEMARAN

 

Semenjak memantapkan diri untuk memilih gaya hidup minimalis sebagai prinsip hidup, ada beberapa konsep yang benar-benar saya sukai, yaitu mengontrol secara berkala barang-barang yang tidak terpakai di sudut-sudut yang biasa barang itu bersarang. 

Aktivitas pengontrolan barang tersebut dalam konsep minimalis memang sangat perlu untuk dilakukan sebagai rangkaian gaya hidup minimalis yang berkepanjangan. 

Less is more, kurang itu lebih, sebuah prinsip yang dijadikan patokan ketika menjalankan gaya hidup minimalis. Dengan memiliki sedikit barang melalui proses pengurangan secara berkala, maka akan banyak didapatkan kelebihan baru di sana, di antaranya ruang menjadi terasa longgar. 

Saat merasa suntuk, biasanya saya akan melihat laci meja, tempat mainan, lemari, jok motor, meja bahkan peralatan dapur, kemudian saya akan pilah-pilah mana barang-barang yang tersimpan tak terpakai dan mana yang masih digunakan. 

Dan benar adanya, hasil dari proses less is more itu, banyak barang tak berfungsi yang ada di sana, jadi bisa dikatakan selama ini kita banyak menyimpan sampah.

Ada kepuasan tersendiri jika aktivitas less is more ini selesai dilakukan, ruang terlihat bersih dengan sedikit barang, mudah dalam perawatan, dan tanpa perlu berpikir banyak saat hendak dibutuhkan. 

Sebenarnya dalam aktivitas sehari-hari, kita hanya butuh alat bantu berupa perabot dan benda pakai yang diperlukan saja, sehingga barang-barang di rumah yang jarang atau bahkan tidak pernah terpakai bisa disingkirkan. 

Kondisi semacam ini memang wajar, karena kebanyakan orang-orang senang dengan memiliki banyak barang meski dengan fungsi yang sama, dan jika ini dibiarkan tanpa pengontrolan, maka lambat laun rumah akan terlihat sesak penuh dengan barang-barang. 

Yuk kita isi bulan Ramadhan ini di antaranya adalah melalui giat less is more dengan niatan an Nadhafatu minal iman. 


Baron, 24/03/2023


Kamis, 23 Maret 2023

RAMADLAN PENUH UNTUK PUTRIKU

Setiap ramadlan tiba, selalu disambut dengan suka cita oleh semua umat muslim, termasuk Saya dan keluarga. 

Ya, banyak hal baru di setiap pelaksanaan puasa di tiap tahunnya, yang mana hal baru tersebut bisa jadi memang jejak dampak potret kehidupan yang penuh dengan pembelajaran. 

Tahun ini adalah tahun ke dua Saya dan keluarga menjalankan puasa di rumah yang baru saya tempati. Banyak perubahan aktivitas jika dibandingkan dengan saat masih tinggal bersama orang tua. 

Pada tahun ini juga, ada si kecil yang telah mulai belajar puasa satu hari penuh, dibutuhkan kesabaran dan kedewasaan untuk menuntun dan mengantarkannya hingga maghrib tiba. 

Baginya, ini mungkin berat, godaan terlihat di sana-sini, apalagi sekolah juga sudah mulai masuk, entah itu berpotensi sebagai penurunan semangat atau bahkan sebaliknya, menjadi semangat berlebih karena banyak ketemu teman-temannya dengan "nasib" yang sama. 

Satu sisi, dengan masuk sekolah, minimal separuh hari dari pikiran dan konsentrasinya difokuskan pada materi dan kegiatan di sekolah, namun sepulang sekolah, ia pasti merengek dengan berbagai alasan yang diutarakan. 

Tidur siang menjadi solusi utama untuk meredam emosi dan kepayahannya hingga saat bangun kondisinya kembali fresh dan siap mengikuti kegiatan sore hari hingga buka. 

Semoga kuat puasa penuh sehari hingga akhir bulan Ramadhan. Amin!


Baron, 23/03/23

Selasa, 21 Maret 2023

ANTRIAN PRODUKTIF

Saat melakukan transaksi di suatu bank, tidak biasanya menunggu antrian yang cukup lama seperti siang itu, masuk pukul 11:00 dan keluar dari bank pukul 13:40, hampir 3 jam transaksi dilakukan meski telah konfirmasi sebelumnya. 

Sebenarnya bisa dimaklumi, karena selain berangkatnya memang agak siang, saya baru ingat kalau saat itu adalah hari Senin, artinya pelayanan akan sedikit padat karena pelayanan usai tutup dua hari. sehingga antrian panjang pun tidak bisa dielakkan. 

Hari itu memang tidak seperti biasanya, agak rame dan antrian pun mengular panjang, beberapa customer juga terlihat menggerutu bahkan ada yang membatalkan transaksi meski telah ikut antri cukup lama. 

Ya, dalam antrian, ada pelajaran berharga yang bisa dipetik, yaitu kesabaran. Sabar untuk menunggu giliran tiba, sabar dalam mengambil tanggungjawab, dan sabar untuk menerima resiko. 

Jika ingin durasi antrian dekat, maka harus disikapi sejak awal, bisa datang lebih pagi, atau datang di jam-jam sepi, pilihan itu sepenuhnya ada pada kita sebagai pelaku. 

Atau jika memang terpaksa terjebak dalam antrian panjang, kita juga bisa memanfaatkan "masa menunggu" tersebut dengan hal-hal yang produktif seperti baca e-book, nonton video inspiratif, baca berita online, atau bahkan nambah skill melalui gawai kita. 

Dengan melakukan hal-hal di atas, dipastikan masa antrian yang menghabiskan waktu tidak berasa menjemukan dan berubah menjadi kesempatan yang lebih produktif dan positif. 

Sebagai konsumen yang bijak, kita harus menyadari akan resiko dari antrian ini, pihak pelayanan jasa pasti sudah menghitung betul estimasi waktu transaksinya, toh aktivitas para petugas juga tidak sedang santai-santai saja, itu berarti proses transaksinya memang membutuhkan waktu agak lebih. 

Saya bisa mengambil pelajaran dari hal tersebut saat berada di posisi yang sama, yaitu pelayanan jasa, pastikan agar konsumen tidak menunggu terlalu lama dengan mengukur transaksinya.

Dalam transaksi harus benar-benar dipertimbangkan efektivitas dan efisiensi aktivitas operasionalnya agar berdampak pada daftar tunggu tidak terlalu lama, karena semua tahu, pekerjaan yang paling membosankan adalah menunggu. 

Mari bersikap bijak dalam mengantri karena alih-alih menjadi aktivitas membuang-buang waktu malah menjadi kegiatan produktif yang bermanfaat untuk kita. 

Senin, 20 Maret 2023

MENJALANI TIGA MASA

"Hiduplah pada masa kini, karena hidup saat ini merupakan hidup yang sebenarnya, jangan ratapi mas lalu, dan jangan khawatir kan masa depan yang belum pasti."

Sederet kalimat itu mampir di beranda story saya beberapa waktu yang lalu, penggalan adagium itu sempat membuat saya mengernyitkan dahi dan berhenti sejenak untuk mencoba mencerna. 

Dalam keseharian, kita memang akan dihadapkan dengan tiga masa, yaitu masa lalu, masa kini, dan masa nanti, ketiganya akan kita lalui secara real, namun tentu harus disikapi berbeda. 

Kesalahan dan kealpaan dari perbuatan yang telah lalu pasti terjadi, dan oleh agama kita dianjurkan menyesalinya jika memang yang kita lakukan bertentangan dengan ajaran agama, namun agama juga melarang untuk terus meratapi semua kesalahan itu tanpa mengambil sikap apapun. 

Dalam konteks ini, menutupi dengan berbagai perbuatan positif sesuai petunjuk agama menjadi suatu sikap hamba yang terkonsep dalam terma taubatan nasuha, yakni penyesalan yang sebenarnya. 

Memenuhi masa lalu hanya dengan mengeluh dan meratapi secara terus menerus tentu bukan pilihan sikap yang bijak, kita telah difasilitasi masa kini untuk dijalani dan masa depan untuk dirancang. 

Memaksimalkan waktu yang ada dengan pelan dan pasti, menanti keajaiban dan kejutan peristiwa, menikmati semua perjalanan yang telah ditetapkan oleh Sang pengatur waktu, serta berupaya sekuat tenaga untuk tidak keluar dari lajur yang telah ditetapkan. 

Hidup di masa kini, juga akan menjadi torehan masa dan bisa dilihat dengan bahagia kelak pada masanya. Inovasi dan aneka kreativitas menjadi alat untuk mengukir jejak di atas kanvas masa real ini. 

Dan masa depan juga perlu untuk disongsong dan dirancang, namun juga tidak baik untuk dipikirkan dalam-dalam, karena hanya akan memunculkan kekhawatiran yang berlebihan. 

Rencanakan dengan baik masa yang akan kita lalui dengan senantiasa menambah kebaikan agar tidak masuk kategori manusia yang merugi atau bahkan manusia yang celaka dengan menurunnya kebaikan setiap hari. 

Sikapi masa lalu dengan istighfar, nikmati masa kini dengan hamdalah, dan songsong hari esok dengan berdoa.