Jumat, 31 Maret 2023

NIKMATI PROSESNYA

Setiap apa yang kita lakukan, merupakan sebuah proses yang pada gilirannya akan ada hasil atau dampak yang kita tuai, entah berdampak baik atau buruk. 

Karena semua hal yang kita lakukan akan memberikan akibat tertentu, maka apa yang hendak kita lakukan harus benar-benar dipikirkan masak-masak agar tidak muncul penyesalan di kemudian hari. 

Di antara kiat untuk menjalani itu semua adalah dengan menikmati proses tersebut sembari diamati dan dianalisa apakah kita sudah berada di lajur yang benar. 

Menjalani proses dengan pelan tanpa tergesa-gesa, dinikmati alurnya, penuh rasa syukur, sarat pemaknaan akan menjadikan hidup kita semakin berkualitas, waktu akan berjalan dengan penuh hikmat dan nikmat. 

Banyak rutinitas yang dapat kita lakukan dengan menerapkan konsep ini, menjalani pekerjaan, mengantar anak sekolah, bebersih rumah, melakukan perjalanan, berkumpul dengan keluarga dan tetangga, melaksanakan ritual ibadah dan lainnya. Semua akan berasa sekali jika dilalui dengan penuh rasa syukur dan dinikmati dengan pelan-pelan. 

Tergesa-gesa dalam melakukan sesuatu biasanya akibat perilaku sebelumnya, entah karena menunda-nunda, tidak serius, kurang fokus atau bahkan dikerjakan dengan konsentrasi yang rendah. 

Menciptakan hidup yang berkualitas memang tidak gampang, meski dalam agama telah diajarkan, namun dalam pelaksanaannya penuh dengan godaan. Hanya komitmen diri dan prinsip hidup terpatri dalam hati yang bisa diandalkan agar laju kita standar sebagaimana marka agama. 

Menyikapi setiap masa sebagaimana anjuran agama amat penting untuk dilakukan, mentaubati dengan istighfar setiap khilaf di masa lalu, senantiasa bersyukur atas limpahan nikmat yang kita terima di masa kini, dan melandasi dengan doa pada aktivitas di masa nanti. 

Mari jalani hidup ini dengan penuh rasa syukur sebagai proses menuju negeri abadi yang diridlai ilahi rabbi. 


Jum'at, 31 Maret 2023


Rabu, 29 Maret 2023

TERMA ITU PENTING

Kerap terjadi saat proses PPDB di tingkat salafiyah adalah kondisi di mana siswa turun ke kelas yang dituju berdasarkan kemampuan melalui jalur tes. 

Dan tak jarang, ekspresi calon siswa atau bahkan orang tua berubah seketika kala mendengar informasi awal harus "turun kelas" dari petugas pendaftaran, terlebih calon santri. Di tengah jelang adaptasi, harus menerima "justice sosial" berupa "turun kelas".

Sebuah respon yang wajar mengingat kondisi yang ada dibenak calon siswa dan juga orang tua adalah kondisi real di rumah, setamat dari SD/MI maka jenjang selanjutnya adalah MTs. 

Siswa yang hendak masuk di kelas jenis salafiyah hampir dipastikan semuanya bakal "turun kelas", kendati para siswa yang berasal dari madrasah Krempyang sekalipun. 

Tepatkah terma "turun kelas" dipakai di sana? yang kerap kali membikin gamang calon santri yang hendak masuk ke madrasah salafiyah? Mari kita bedah! 

Nama tingkatan yang dipakai baik salafiyah maupun kurikulum kemenag adalah sama, sama-sama MI dan MTs, hanya tingkat MA dan MU saja yang beda, dari perbedaan di tingkat atas inilah bisa dijadikan barometer. 

MI salaf dan MI kurikulum Kemenag adalah sama dalam istilah namun beda dalam materi, kurikulum, tuntutan, lulusan dan juga usia. Sehingga lulusan MI kurikulum yang masuk ke MI salaf kurang pas jika dikatakan "turun kelas", karena jenjangnya pun tidak setara. 

Di lingkungan Kemenag bidang PD pontren, sebenarnya telah berlaku nomenklatur yang sudah populer dan cukup familiar, yaitu tingkat ula, wustha dan ulya. Terma ketiganya juga digunakan untuk mengkategorikan tingkatan berdasarkan jenjangnya. 

Di madrasah Krempyang, yang telah berlaku masih di tingkat atas saja, yaitu ulya, alangkah lebih baik juga diberlakukan di jenjang bawahnya, maka secara hierarkis akan tersusun menjadi Madrasah ula, Madrasah wustha dan Madrasah 'ulya, bukan lagi MI, Mts dan Madrasah 'Ulya. 

Dengan mengacu pada lebel jenjang tersebut di atas, maka tidak ada lagi istilah "turun kelas", karena calon siswa setelah dites, kemampuan yang dimiliki akan menghantarkannya masuk ke jenjang ula, wustha atau bahkan ke ulya. 

Selain itu, penggunaan istilah ula, wustha dan ulya dengan sendirinya akan mengikis pemakaian istilah "Kurikulum" pada jalur formal yang selama ini dijadikan pembeda dengan jenjang salafiyah.

Seperti diketahui, terma "kurikulum" sebagai representasi dari madrasah formal cukup membingungkan banyak orang ketika diucapkan di luar lingkungan madrasah Krempyang atau calon santri dan wali santri saat daftar sekolah dan mondok. 

Maka dari itu, jika masih menggunakan istilah-istilah sebagaimana yang berlaku selama ini di madrasah, petugas harus benar-benar bisa menjelaskan kepada calon wali dan santri agar mereka bisa paham tanpa salah atau gagal paham. 

Atau istilahnya bisa kita ubah, mengingat di Krempyang sudah ada  tingkat Ulya di muadalahnya, maka akan sangat tepat jika bawahnya berganti Ula dan Wustha, sehingga di jenjang salafiyah berlaku tingkatan Ula, Wustha, dan Ulya. 


@myh

Selasa, 28 Maret 2023

CATAT IDEMU

Ide merupakan gagasan atau konsep kreatif yang muncul dalam pikiran seseorang sebagai hasil dari proses berpikir. Ide bisa datang kapan saja di mana saja, bisa berwujud sebuah rencana, inovasi, strategi, atau gagasan-gagasan lain yang muncul sebagai solusi untuk suatu masalah atau untuk menciptakan sesuatu yang baru.

Ide bisa datang dari berbagai sumber, seperti pengamatan, refleksi, diskusi, atau bahkan mimpi. Ide bisa menjadi awal dari proses kreatif yang menghasilkan karya-karya seperti seni, sastra, teknologi, atau inovasi bisnis.

Karena ide kerap datang kapan saja tanpa melihat waktu, acap kali ide hanya terlintas di benak dan pikiran kemudian sirna sebelum eksekusi dilakukan. Maka ide brilian yang datang harus segera disikapi sebelum benar-benar hilang. 

Menyikapi akan hal itu, maka ide yang muncul harus segera diikat dengan tulisan. Seandainya ide itu mencuat di saat yang belum memungkinkan untuk segera dieksekusi, catatan menjadi media terbaik untuk menyimpannya terlebih dahulu, baru saat kesempatan itu datang, ide bisa dilakukan. 

Mencatat bisa dilakukan di pelbagai media konvensional semisal buku, jurnal, secarik kertas dan lain sebagainya, juga bisa dicatat di media digital seperti gawai, blog, email dan lainnya. 

Saya sendiri, jika ide tersebut tiba-tiba terlintas di pikiran, segera saya keluarkan handphone saya lalu mencatatnya pada aplikasi note yang saya miliki, di sana banyak juga list ide-ide saya baik yang telah tereksekusi maupun yang masih dalam wacana perencanaan. 

Siapa kini yang tidak punya smartphone, gawai cerdas yang memudahkan manusia menjalani aktivitas sehari-hari, di dalamnya dapat diisi dengan aneka aplikasi guna memandu menjalani hari-hari. 

Mari segera kita catat semua ide yang mencuat baik selagi sempat sebelum ide emas itu mengarat dengan memanfaatkan gawai kita sebagai pengingat. 


Baron, 28 Maret 2023

Senin, 27 Maret 2023

TERSENYUMLAH!

Tersenyumlah!, teguran itu kerap sekali menghampiri saya, entah dari sahabat, kolega kerja atau beberapa orang yang perhatian dengan saya, terima kasih atas perhatiannya. 

Karakter saya memang sulit untuk tersenyum, terutama dalam kondisi berpikir serius, efeknya bisa menjalar hingga ke muka, terlihat masam bahkan kadang terlihat garang. 

Kondisi ini benar-benar saya sadari, dan faktanya memang demikian, tidak sedikit saat tertangkap kamera secara hidden, wajah saya terpotret muram, sungguh mengenaskan. 

Melihat kondisi ini, sebenarnya saya tidak tinggal diam, saya menyikapinya dengan banyak hal, di antaranya dengan banyak baca literatur dan artikel berkaitan dengan itu, bahkan tidak jarang saya harus ngobrol dengan gaya full senyum di depan cermin kamar saya, terlihat banget kan upayanya?

Karena pekerjaan saya banyak berhubungan dengan banyak orang, mau tidak mau kondisi ini harus dirubah, karena itu bagian dari pra syarat komunikasi, agar komunikan merasa nyaman berinteraksi dengan kita. 

Saking kerasnya upaya saya merubah karakter ini, sampai-sampai kadang saya merasa ini bukan saya yang sebenarnya. Tebar senyum seolah topeng yang harus saya pasang kapanpun dan di manapun. 

Namun jika perasaan ini datang menghampiri, dengan segera saya menepisnya, karena memang tersenyum harus selalu ditampilkan dan menyungging di bibir ini. 

Untuk sekedar menguatkan dalam persepsi saya, senyum dapat digunakan sebagai upaya sedekah ringan tanpa modal yang perlu dikeluarkan. Karena selain berdampak senang pada yang melihat, juga terasa sekali berpengaruh terhadap kondisi mental dan psikologi saya. 

Selain itu, dengan selalu senyum ini saya gunakan sebagai tabir kondisi hati jika sedang sedih, karena itu tak perlu ditampakkan pada orang lain, cukup dicurhatkan pada Sang manajemen hidup kita, Allah Ta'ala. 


Baron, 27/03/2023

Minggu, 26 Maret 2023

KAIZEN SETIAP HARI

Saya kurang ingat sejak kapan saya mulai mengenal konsep Kaizen ini. Sebuah konsep yang dipopulerkan oleh negara Jepang dan diklaim menjadi kunci kemajuan negara dan masyarakatnya. 

Kaizen kemudian menyebar ke berbagai negara dan menyusup ke berbagai hal. Berubah sedikit demi sedikit, itulah yang saya pahami selama ini tentang metode Kaizen. 

Jika ingin membangun sebuah kebiasaan, menaikkan level makna kehidupan atau mengasah sebuah skill tertentu, maka saya rasa teknik ini akan sangat membantu. 

Konsepnya yang menyentuh perubahan step by step, sedikit demi sedikit hingga si pelaku tidak merasa capek, jenuh dan akhirnya berhenti bertindak. Teknik demikian yang kemudian menjadikan Kaizen menggoda banyak orang hingga ke belahan dunia. 

Dengan dilakukan misalkan semenit setiap hari, lama kelamaan akan menjadi kebiasaan dan dengan sendirinya target akan dapat dicapai dengan tanpa rasa berat, karena hanya dilakukan dengan durasi pendek. 

Memang teknik ini terlihat gampang dari sisi satu menitnya, saking pendeknya, banyak orang meragukan bahkan tidak percayanya akan keberhasilannya. Efek dari tidak percaya itu, akhirnya enggan untuk melakukan, jadinya seolah gagal sebelum bertindak, menyerah sebelum perang. 

Jika dianalisa, memang yang agak berat adalah pada sisi pelaksanaan setiap harinya, dibutuhkan konsistensi dan keteguhan hati dalam melakukannya, dalam konteks ini, latihan semenit menjadi penyeimbang konsep Kaizen. 

Sejak mengenal konsep Kaizen, hari-hari saya banyak tersentuh teknik tersebut, terutama pada upaya membangun pembiasaan positif dan juga pengasahan skill jika ingin belajar hal-hal baru. 

Konsepnya yang mudah dilakukan menjadikan saya berkomitmen untuk mengimplementasikan nya ke pelbagai sendi kehidupan saya, terutama untuk membangun habit yang baru dan positif. Yuk, mari bertumbuh. 

Baron, 26/03/2023

Sabtu, 25 Maret 2023

KEMBALIKAN KE ASALNYA


Dalam menjalani konsep gaya hidup minimalis, memang tidak gampang, selain berkutat dengan diri sendiri yang harus berlatih menerapkan segala prinsipnya, juga berhadapan dengan lingkungan yang belum sepenuhnya mendukung. 

Tampil rapi dan bersih setiap saat adalah dampak nyata dari implementasi gaya hidup minimalis. Kita dengan tanpa sadar akan terlatih tidak nyaman jika barang-barang di sekitar kita berserakan, berantakan dan awut-awutan. 

Dari sekian waktu yang saya pelajari, ada satu kunci untuk memelihara agar ruangan bisa tetap rapi dengan penempatan barang-barang sebagaimana tempatnya, yaitu dengan menerapkan kunci "Kembalikan ke Asalnya".

Setiap selesai menggunakan alat apapun, kembalikan ke tempatnya, jangan sekali-kali berpindah tempat. Selain memudahkan saat dibutuhkan kembali, kunci "kembalikan ke asalnya" akan dapat menekan ruangan berantakan. 

Dengan kunci ini pula, ruangan akan terlihat tertata rapi dan bersih dengan penempatan barang-barang yang fungsional. Jika tengah demikian, membersihkan lingkungan menjadi semakin mudah tanpa rasa malas. 

Prinsip ini saya inspirasi saat masih pendidikan di pesantren dulu, sebuah solusi langkah bersama yang digagas oleh kepala pondok yang sedang frustasi menyikapi barang-barang yang sering hilang tak karuan. 

Dengan konsep ini pula, diberlakukan untuk menyikapi penumpukan benda pakai di pondok yang tidak teridentifikasi siapa pemiliknya.

Setelah dilakukan secara bersama-sama, ternyata konsep jni cukup berhasil sebagai solusi kumuhnya beberapa sudut lingkungan pondok saat itu, selain bersih dan nyaman, konsep ini telah terpatri menjadi suatu kebiasaan bagi kebanyakan para santri yang akan sangat berguna bagi kehidupan mereka. 

Kunci kembalikan ke asalnya kini mulai saya terapkan di manapun, bahkan di rumah bersama keluarga, saya akan uring-uringan jika ada barang-barang tidak ditempatkan semestinya. Bukankah Islam mengajarkan meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya itu kategori dhalim? Dalam konteks ini saya berpegang teguh. 

Menerapkan kunci kembalikan ke asalnya juga bisa diimplementasikan ke pelbagai hal, baik bersikap fisik, digital, pemikiran, bahkan spiritual. Semuanya akan berdampak baik secara langsung maupun berkala. 

Yuk kita terapkan konsep kembalikan ke asalnya ini sebagai medium menjalankan gaya hidup minimalis untuk sekedar meringankan hidup kita. 

Baron, 25/03/2023

Jumat, 24 Maret 2023

LESS IS MORE, AKTIVITAS KEGEMARAN

 

Semenjak memantapkan diri untuk memilih gaya hidup minimalis sebagai prinsip hidup, ada beberapa konsep yang benar-benar saya sukai, yaitu mengontrol secara berkala barang-barang yang tidak terpakai di sudut-sudut yang biasa barang itu bersarang. 

Aktivitas pengontrolan barang tersebut dalam konsep minimalis memang sangat perlu untuk dilakukan sebagai rangkaian gaya hidup minimalis yang berkepanjangan. 

Less is more, kurang itu lebih, sebuah prinsip yang dijadikan patokan ketika menjalankan gaya hidup minimalis. Dengan memiliki sedikit barang melalui proses pengurangan secara berkala, maka akan banyak didapatkan kelebihan baru di sana, di antaranya ruang menjadi terasa longgar. 

Saat merasa suntuk, biasanya saya akan melihat laci meja, tempat mainan, lemari, jok motor, meja bahkan peralatan dapur, kemudian saya akan pilah-pilah mana barang-barang yang tersimpan tak terpakai dan mana yang masih digunakan. 

Dan benar adanya, hasil dari proses less is more itu, banyak barang tak berfungsi yang ada di sana, jadi bisa dikatakan selama ini kita banyak menyimpan sampah.

Ada kepuasan tersendiri jika aktivitas less is more ini selesai dilakukan, ruang terlihat bersih dengan sedikit barang, mudah dalam perawatan, dan tanpa perlu berpikir banyak saat hendak dibutuhkan. 

Sebenarnya dalam aktivitas sehari-hari, kita hanya butuh alat bantu berupa perabot dan benda pakai yang diperlukan saja, sehingga barang-barang di rumah yang jarang atau bahkan tidak pernah terpakai bisa disingkirkan. 

Kondisi semacam ini memang wajar, karena kebanyakan orang-orang senang dengan memiliki banyak barang meski dengan fungsi yang sama, dan jika ini dibiarkan tanpa pengontrolan, maka lambat laun rumah akan terlihat sesak penuh dengan barang-barang. 

Yuk kita isi bulan Ramadhan ini di antaranya adalah melalui giat less is more dengan niatan an Nadhafatu minal iman. 


Baron, 24/03/2023