Senin, 02 Maret 2020

HIDUP PRODUKTIF

Semua manusia memiliki waktu yang sama, masing-masing diberi jatah waktu 24 jam, kuota itu diberikan tanpa memandang jenis, sifat, karakter, profesi dan segmen lain yang melengkapi dunia.

Namun dari kesempatan yang diberikan, tidak semua orang dapat menggunakan dan memanfaatkan jatah yang diberikan pada hal-hal positif.

Diperlukan strategi jitu untuk sekedar mengelola dan men setting bagaimana kesempatan yang ada dapat menghasilkan karya produktif di segala bidang.

Apapun latar belakangnya, apapun hobi dan bakatnya, waktu yang telah disediakan harus dimanfaatkan sebaik mungkin baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.

Konsep hidup produktif sebenarnya dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja, kesemuanya hanya bermodal kemauan bertindak dan kegigihan dalam menolak pelbagai halangan dan hambatan.

Mengapa itu penting? Ya, karena jika tanpa kemauan dan upaya maksimal, mustahil sebuah karya akan dihasilkan. Begitu juga jika kemauan itu tidak diimbangi dengan kegigihan menolak godaan, tidak mungkin sebuah prestasi dapat terealisasi.

Maka hidup produktif bagi kaum millenial menjadi urgen karena dunia kini membutuhkan itu, dan era ini berkaitan dengan itu.
Mari berkarya.

Rabu, 19 Februari 2020

PENDAMBA RAHASIA


"Haaaa .... Ia akan tampil, Bara akan perform". Jerit lengking Mary siang itu kegirangan.

Sambil berlari menuju sekumpulan geng girl nya di balkon kamar asrama yang sedang ngerumpi sambil makan cilok Pakde Mol yang dibeli saat pulang sekolah seraya menunjukkan selebaran pengumuman tentang para finalis musabaqah tahfidz alfiyah (MusTahfa) tingkat aliyah yang ia ambil dengan "paksa" dari papan pengumuman.

"Nih temen-temen, ia akan tampil, aduh ... senengnya, jadi nggak sabar bakalan liat sang idola tebar pesona nih saat perform dalam ajang muhafadzah nanti", Sambung Mary menjelaskan pada teman-temannya yang belum semuanya mengerti akan maksud Mary.

"Lo ngomong apa sih Mar?" Tanya salah satu teman Mary yang biasa paling kepo di antara yang lainnya.

"Eh ... eh ... eh ..., Tau nggak girl, si Bara, dambaan rahasia gue, ia lolos masuk ke babak final dan akan tampil lusa di aula al Hasan" terang Mary pada mereka, "Aduh senengnya ... Gue bakalan jadi penonton terdepan, dan jadi suporter utamanya Bara" lanjut Mary meneruskan.

Musabqah Tahfidz Alfiyah (MusTahfa) adalah kompetisi menghafalkan nadzam alfiyah (ilmu gramatika Bahasa Arab yang disusun dalam bentuk bait-bait atau nadzaman), sebuah ajang bergengsi di Madrasah Aliyah Pesantren tempat di mana Mary menuntut ilmu. Peserta yang lolos melaju ke babak final adalah santri-santri pilihan yang telah mengikuti proses yang super duper ketat. Bukan hanya kelihaian dalam menghafal nadzam-nadzam alfiyah saja yang dibutuhkan, kesiapan mental dan manajemen waktu juga dituntut di ajang yang digelar setahun sekali ini. Karena kompetisi ini jadi ajang bergengsi, maka pada babak final, para peserta grand final akan tampil di depan para santri putra dan putri, sebuah kesempatan dan pemandangan yang tak biasa di pesantren, satu acara diikuti santri putra dan putri secara bersamaan, saat inilah mental peserta benar-benar diuji.

Di antara santri yang beruntung itu adalah Bara, Ia selalu lolos dalam mengikuti kegiatan MusTahfa setiap kali digelar, Ia seolah sudah menjadi langganan juara tiap tahunnya. Dua tahun yang lalu, saat kelas satu, Ia menyabet juara dua. Namanya semakin membumbung tinggi dan bersinar saat tahun lalu Ia mewakili kelas dua meraih juara pertama. Tahun ini, apakah Ia akan mampu mempertahankan gelar jawaranya setelah ia lolos masuk ke babak final? Lusa jawabannya pada kegiatan MusTahfa.
Mary berharap, Ia akan duduk paling depan untuk menyaksikan performa Bara di ajang bergengsi tersebut, saking semangatnya, sampai Ia lupa kalau salah satu rival Bara adalah Diyah, teman se-gengnya. Untung buru-buru ia diingatkan Janny teman gengnya yang lain.

"Jangan lupa Mar!! Diyah juga ikut ajang itu lho .....! Masak lo cuman kasih suport ke Bara doang, Diyahnya lo lupain!" Celetuk Janny mengingatkan.

"Iya ya ..... Gue lupa!!" Ujar Mary sambil tepuk jidat tanda baru ingat. "Gue bakalan suport Diyah juga kok! Tenang aja!" Tos ...., Tosnya disambut teman-temannya yang lain.

"Tapi, Bara tetap jadi fans berat gue lho ...., Lalu Diyah? Nomor 1 b deh!!! Hehe ..... " gumam Mary dalam hati.

Bara, adalah nama panggilan dari salah satu santri putra bernama lengkap Ahmad Mubaraki, kini ia digandrungi oleh banyak santri putri, kecerdasannya dalam bidang menghafal alfiyah menghantarkan ia banyak dikenali tidak hanya para guru dan pengurus pondok, namun juga para santri, terlebih santri putri. Perawakan yang tinggi, tegap dan berparas mirip pesinetron Aliando Syarif menjadikan ia mudah untuk dikenali sekaligus gampang mengundang pendamba rahasia lainnya, termasuk Siti Maryam atau biasa dipanggil Mary.

Dua hari berlalu, banner berukuran besar terbentang lebar di belakang panggung megah itu. Panggung berukuran 5x8 meter dengan tinggi setengah meter itu menambah sakral dan tegang dilengkapi dengan beberapa lampu sebagai penanda pengaturan waktu.

Di depan panggung yang didominasi warna hijau tua itu juga tertata beberapa meja dewan penguji lengkap dengan palu besarnya, ya palu besar yang digunakan untuk mengetuk edit saat peserta salah dalam melafalkan bait-bait yang diperlombakan.

Jika palu edit itu diketukkan, "Dhok ... , Aduh ... " serasa seisi ruangan ikut bergetar. Peserta? Jangan tanya, kalau tidak siap mental, bisa buyar konsentrasinya atau bahkan kadang bisa hilang sama sekali telah sampai mana bait yang dilantunkan.

Setting para audiensi juga ditata oleh pihak OSIS sedemikian rupa, jadi meski MusTahfa berlokasi di aula al Hasan yang sangat luas, penonton dari santri putra dan putri tidak bakalan bisa bertemu secara langsung kendati hanya kontak mata saja, kecuali hanya dengan para peserta lomba saja.

Satu demi satu penonton tiba di lokasi memenuhi ruang penonton. Area depan telah terpenuhi terlebih dahulu, tak seperti saat ngaji yang pada berebut mundur. Seperangkat yel-yel dan aneka atribut sebagai dukungan pada duta kelas masing-masing pun tengah dipersiapkan, tak terkecuali Mary, bahkan ia bawa dua kardus berukuran besar, yang dihias sebegitu apik dan cantiknya demi dan untuk sang idola, Satu untuk Bara dan satu lagi untuk temannya, Diyah.

Udara cukup sejuk, enam buah AC besar yang terpasang di beberapa sudut aula mampu mendinginkan udara sekaligus suasana jelang acara dimulai. Mata kantuk Mary semakin terlihat akibat semalaman begadang untuk membuat properti suporter dari kardus.

Acara dimulai, serangkaian seremonial panjang berupa sambutan-sambutan mulai dari panitia penyelenggara, kepala Madrasah, waka kurikulum, pihak yayasan dan seterusnya yang lebih terkesan seperti lomba pidatopun semakin membuat penasaran tidak hanya pada penonton namun juga para peserta, maklum, karena nomor urut tampil baru diundi setelah tata tertib lomba dibacakan.

Dan tibalah pada sesi pengambilan undian nomor urut tampil yang membuat semua orang di ruangan itu merasa deg-degan. Tanpa tahu urutan tampil lainnya, yang Mary ingat hanya Bara maju diurutan ke 4, sedangkan Diyah maju pada urutan hampir terakhir, yaitu nomor urut 8. "Lumayanlah, setelah Bara tampil, bisa nyicil tidur bentar sembari nunggu Diyah tampil". Pungkas Mary sambil merapikan properti suporternya.

Memang, pagi itu Mary terlihat paling ribet dan paling semangat di antara teman-teman santri putri lainnya. Ribet karena membawa dua properti sekaligus, dan semangat karena dua jagoannya akan tampil.

Mary sempat bingung, satu sisi ia berharap idolanya juara, di sisi lain ia juga ingin Diyah yang menang karena sesama teman geng. Bara adalah saingan terberat Diyah pada tahun ini.

Tanpa memperhatikan tampilan pertama sampai ke tiga, tiba pada urutan tampil ke empat, "Bara ... Bara ... Bara ...", Suara lantang datang dari penonton putri. Siapa lagi kalau bukan Mary. Teman-temannya pada sibuk meredakan semangat Mary yang berlebihan dan kelewat batas disambut dengan sorakan penonton dari santri putra yang menilai lebay dengan sikap Mary.

"Mar jangan gitu ah, malu sama yang lain, lihat tu! Pak waka kesiswaan melototin lo, bakal terkena kasus lo nanti". Ujar Jannah pada Mery.

Tanpa menghiraukan peringatan dari teman se-gengnya, juga tanpa mempedulikan kode dari Waka kesiswaan yang bertugas mengkondisikan jalannya acara saat itu, sambil membawa properti suporter, secara refleks Mary naik ke atas panggung untuk memberikan semangat secara langsung kepada Bara. Rasa kaget dan heran nampak jelas di raut muka Bara saat itu. Mungkin ia bingung, santri putri ada yang sampai berani memberikan dukungan yang tak biasa seperti ini.

Semua terdiam keheranan, teman se-gengnya, Waka kesiswaan, para dewan juri, seluruh penonton baik santri putra maupun putri, heran sekaligus mungkin ada rasa malu yang menyusup pelan. Ya ... Semua terdiam, hanya tersisa suara bising halus AC dan sound di panggung, juga detik jam di sebelah panggung megah itu.

Memecah keheningan, masih ada Mary yang jingkrak-jingkrak kegirangan dan semangat membara di sekitar Bara yang sedang duduk di kursi panas sambil diam terpaku. " Kok ada santri putri dengan prilaku demikian?" Batin Bara dengan penuh keheranan.

Teman se-gengnya juga pada tertegun. "Mengapa Mary bisa senekad itu?, Walaupun Mary paling supel dan selalu paling heboh di gengnya, tapi seharusnya tidak sampai seperti itu! bukan Mary deh kayaknya itu". Ungkap teman Mary sesama geng.

"Mary, turun kamu!" Bentak keras Waka kesiswaan. "Sebagai seorang santri putri, tidak pantas kamu bertindak demikian". Lanjut waka kesiswaan sambil marah-marah.

"Hanya kasih suport doang kok pak, nggak lebih ...." Sahut Mary menimpali.

"Tapi bukan seperti itu caranya!". Jawab waka kesiswaan dengan tegas.

"Udah Mary, buruan lo turun, jangan sampai karena insiden ini, acara MusTahfa diskors atau bahkan dihapus". Seru teman-teman geng Mary.

"Nggak!! Gue akan tetap kasih semangat dan dukungan pada Bara di sini, Bara kudu menang tahun ini, harus, titik". Ujar Mary yang semakin menjadi-jadi.

"Mary!!!!" tepukan sedikit keras yang ke tiga mendarat pada pundak sebelah kiri Mary.

"Jangan bengong aja lo, itu Bara sedang tampil, katanya mau suport dan kasih yel-yel spesial buat dambaan rahasia lo". Ujar Janny mengingatkan.

Seketika tepukan Janny menyadarkan Mary dari lamunannya. Mary merasa lega insiden tadi cuma hayalan halusinasi dia saja. Untung saja, rasa kagum, rasa mendamba, nge-fans berlebih pada sang idola masih terkontrol dengan ketaatan pada tata tertib pondok, kode etik sekolah, takdzim pada para guru dan kiai, juga nasihat dari para sahabat yang mewarnai dan menuntun jalan Mary selama ini.

Sementara itu, Bara dengan lancar dan tenang di atas panggung melantunkan nadzam-nadzam alfiyahnya, dan Mary entah sampai kapan akan tetap menjadi pendamba rahasia Bara.

Rabu, 14 Agustus 2019

MAKNA HASTAG MU KEREN LUAR DALAM


Di sebuah sudut, terdapat sebuah sekolah dengan mutu yang sangat bagus, aneka ragam materi dan kurikilum dikelola dan diberikan secara professional, namun karena semua dilaksanakan secara sederhana dan terkesan apa adanya tanpa disertai brand yang mendukung, sekolah tersebut pun tidak banyak diketahui orang dan akhirnya sepi peminat sehingga tidak banyak menebar kebaikan, ibarat kata, bagaikan mutiara yang terpendam. Kini kabar sekolah tersebut telah dilupakan, tenggelam dan hilang.
 
Konsep berpikir yang konservatif dan kekhawatiran yang tinggi terhadap sebuah perubahan menjadikan sekolah ini stagnan dan sulit untuk berkembang meski sebenarnya mereka mampu karena memiliki potensi yang luar biasa.

Gambaran pertama dapat dikatakan keren di dalam namun tidak di bagian luar, dampak yang dihasilkan adalah sekolah tersebut berjalan di tempat dan tidak banyak menebar kebaikan.

Di bagian sudut yang lain. Terdapat sebuah sekolah yang memiliki banyak inovasi dan brandid, semua kegiatan dan kurikulum dibalut dengan kemasan yang modern dan kekinian. Program yang dijalankan tidak pernah luput dari liputan dan tentu juga di publish ke dunia maya yang tak terbatas jangkauan pasar pendidikannya. Semua costumer akademik banyak tergiur dengan cassing yang mereka ciptakan dan mengundang banyak sekali wali murid yang ingin masuk di dalamnya.

Namun para pengelola sekolah tersebut lupa, mereka hanya terkonsentrasi pada kulitnya saja tanpa perbaikan kualitas dari kurikulum dan materi yang disampaikan. Semua kegiatan dan proses belajar mengajar yang dilakukan tidak lebih sekedar settingan dan skenaris yang disutradarai oleh kepala sekolah. Orientasinya adalah bagaimana sekolah tersebut bisa besar dan banyak dikenal orang meski banyak "sandiwara pendidikan" di dalamnya.

Gambaran ke dua ini dapat dikatakan keren di luar namun tidak di bagian dalam. Korban utama dari tipikal sekolah ke dua ini adalah konsumen yang dalam hal ini adalah wali murid dan siswa itu sendiri. Karena pendekatannya bersifat persuasif, banyak pelanggan yang masuk kemudian tertipu, ternyata di dalamnya tak ubahnya kegiatan biasa dan kurang berkualitas namun di pakaikan topeng untuk "mengelabuhi" dan menarik peminat dari luar, sungguh ironis.

Berkaca pada dua model sekolah di atas, MU PPMM mempunyai keinginan kuat untuk menjahui dua tipikal sekolah tersebut, yaitu dengan mengusung tema MU keren luar dalam.

Tidak hanya berkualitas dari sisi akedemik dan proses pembelajarannya, namun juga dipikirkan bagaimana kualitas itu tampak dan dapat dilihat oleh pelanggan secara langsung agar dapat menarik perhatian dan banyak yang akan ikut bergabung. Untuk bisa dilihat oleh publik, tentu diperhatikan pula bagaimana prestasi-prestasi itu dikemas agar dapat diterima masyarakat secara apik.

Syiar Islam dan menebar kebaikan dengan pangsa pasar luas tak terbatas menjadi motivasi utama semangat ini. Konsumen pendidikan yang melihat kemudian tertarik untuk masukpun tidak akan merasa tertipu dan dibohongi dengan jargon-jargon bujukan yang selama ini didengungkan, tapi mereka akan melihat secara nyata dan menerima apa adanya mutu pendidikan yang ada di dalamnya.

Misalnya, sertifikat yang diberikan pihak madrasah kepada para siswa atas prestasinya menyelesaikan hafalan 250 bait sebelum idhul adha merupakan apresiasi branding, penghargaan itu bukan hanya formalitas namun juga harus benar-benar mewakili kualitas siswa tentang prestasi yang ia terima.

Ujian, cerdas cermat, lomba hafalan dan sederet aktifitas akademik lainnya merupakan kegiatan biasa pengasah prestasi di sekolah, namun untuk meningkatkan semangat dan agar dilirik banyak pihak, maka aneka kegiatan tersebut harus dipoles sedemikian rupa agar terlihat modern dan kekinian. Selain untuk mengasah kualitas para siswa juga dapat dijadikan media promosi madrasah ke pihak luar.

Baron, 14/8/2019
@myh

Selasa, 13 Agustus 2019

RITUAL SHOMADIYAH Antara Kuantitas dan Kualitas

Kegiatan yang mengemuka saat jelang tanggal sepuluh Dzulhijjah adalah tentang fadhilah puasa tarwiyah, arafah dan juga ritual bacaan shamadiyah, sebagaimana disampaikan dalam keterangan tersebut, bahwasannya barang siapa yang membaca surat al ihlash 1000 kali di sore hari tanggal 09 dhulhijjah atau hari arafah, maka Allah akan mengabulkan segala permintaannya.
 
Dari situ, dapat kita ketahui, dalam fadhilah tentunya yang diharapkan tidak hanya persoalan berapa nominal bacaannya, namun juga bagaimana ritual itu dibaca, ada aturan-aturan tertentu yang harus diikuti oleh si pembaca, karena surat yang dibaca juga termasuk bagian dari ayat-ayat al Qur’an.

Di lapangan banyak ditemui, para santri dalam mengamalkan bacaan tersebut hanya terfokus pada berapa bacaan yang ia peroleh tanpa menghiraukan bagaimana kualitas bacaannya meski tidak sampai membatalakan hasilnya, apalagi jika kegiatan tersebut dilakukan sesaat sebelum pulang berlibur, tergesa-gesa dan diliputi perasaan tidak tenang dalam pelaksannaannya. 

Kita lupa, sebenarnya ada banyak waktu, tenaga dan kesempatan yang dibuang untuk melakukan aktivitas tersebut, tentu kita akan merasa rugi, ternyata hasil yang diperoleh tidak semaksimal apa yang kita harapkan hanya karena kita terlalu fokus pada jumlah yang dikejar tanpa memikirkan kualitas dari bacaan tersebut. Wallahu a’lam.

@myh

Selasa, 25 Juni 2019

MENJALANI DUA WAKTU YANG BERBEDA

Dulu ketika masih berada di pesantren, saya sempat merasa agak risih tentang pemberian informasi perbedaan antara waktu Indonesia Barat (wib) dan waktu istiwa' (wis) yang disampaikan secara sporadis namun ajeg.

Pemberian info tersebut tidak hanya ditempel di titik-titik lokasi publik yang strategis namun juga diumumkan di kelas-kelas secara berkala dan terus menerus. Seperti seorang yang sedang menawarkan dagangannya secara terus menerus tanpa bosan meski tiada yang membeli dan itupun berlangsung cukup lama.

"Tidak pernah jemu ya mereka?" gumamku saat itu karena belum mengerti arti sebuah perbedaan antara wib dan wis. Maklum, karena di pondok berapapun selisih antara wib dan wis, tidak berpengaruh apa-apa terhadap jadwal kegiatan yang berlaku, karena yang digunakan hanya waktu istiwa' saja. Melihat waktu kegiatan perspektif santri pondok.

Jam istiwa' adalah sebuah jam atau penentuan waktu yang berpatokan pada matahari. Jam ini kerap berbeda dengan jam yang biasa digunakan secara umum (wib, wita atau wit) di Indonesia, adanya perbedaan tersebut bergantung pada musim yang tengah terjadi, selisih tersebut berkisar antara 5 hingga 45 menit lebih cepat dibanding waktu yang berlaku secara umum di Indonesia.

Dan informasi secara berkala tentang selisih antara wib dan wis terasa begitu berarti ketika sudah pulang atau tidak di pesantren lagi. Sebuah penilaian tentang waktu perspektif karyawan Madrasah dan pesantren, Mengapa demikian? Karena dalam menjalankan aktivitas menggunakan dua waktu yang berbeda, di rumah menggunakan wib sedangkan di Madrasah dan pesantren yang berlaku adalah wis. Dapat dibayangkan bukan, betapa kacaunya jika tidak mengetahui informasi tentang selisih waktu antara wib dan wis?

Sebenarnya pemberlakuan penggunaan wis ini memberikan pelajaran berharga buat kita semua. Semua dituntut untuk disiplin dan menghargai waktu, minimal dengan informasi perbedaan itu kita diingatkan bahwasannya waktu terus berjalan, maka harus terus dimanfaatkan.

Selain itu, informasi perubahan yang dilakukan seminggu sekali itu seolah mengingatkan betapa nikmat besar itu harus benar-benar disyukuri dengan produktif dalam berkarya.

Dengan pemberitahuan informasi selisih itu pula, kita menjadi terjaga akan keterlambatan sehingga menjadi disiplin. Terma disiplin memang kedengaran klise, namun sungguh berefek jika terlanggar. Disiplin merupakan sebuah pembelajaran pada diri sendiri dan pembelajaran bagi orang lain yang berbentuk suri tauladan. Ibarat pepatah, lebih baik datang lebih awal satu jam daripada terlambat satu menit.

Penggunaan waktu wis ini agaknya banyak digunakan di banyak pondok pesantren meski tanpa kesepakatan, terutama di pesantren-pesantren berjenis salafiyah, karena dalam pelaksanaan dan pemberlakuannya dibutuhkan ilmu falak yang juga dipelajari dan diseriusi di pesantren tersebut, konsep yang dipakai adalah learning to know serta learning to do, mempelajari ilmunya sekaligus mempraktikkannya secara langsung. Dengan begitu waktu pembelajaran benar-benar berjalan secara optimal


Kamis, 13 Juni 2019

PEMBUKAAN KEGIATAN KEAGAMAAN DAN HALAL BIHALAL DUSUN GEBANGKEREP

Pembukaan kegiatan keagamaan sekaligus halal bihalal dusun Gebangkerep Baron digelar pada Kamis, (13/6)

Setelah terjeda kurang lebih satu bulan pada bulan Ramadlan dan hari raya idul fitri 1440, semua kegiatan keagamaan meliputi rutinan Jum'at wage, rutinan jamaah tahlil bapak-bapak, jama'ah ibu-ibu muslimat "Darus Sholihah", dan semua TPQ dan Madin di dusun Gebangkerep dibuka kembali.

Mengingat masih dalam suasana hari raya, kegiatan pembukaan dikemas dalam acara Halal bihalal segenap antar peserta kegiatan juga perangkat desa dengan para warganya.

Berlokasi di kediaman Kepala Desa, ibu Susi Astuti, acara dimulai tepat pada pukul 20.10. Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan tahlil singkat dan sambutan-sambutan dari ibu kepala desa dan wakil pelaksana kegiatan disusul kemudian acara inti, pengajian atau mauidhah hasanah.

Diawali dengan penggalan syiir tanpo waton juga sedikit digubah dengan kondisi lokal masyarakat, Drs. KH. Sumanan Hidayat, MM. membuka mauidhah hasanahnya.

Penyampaian dilanjutkan pada betapa penting dan urgennya kegiatan halal bihalal, karena kita adalah manusia yang tak pernah luput dari dosa, maka permintaan maaf atas sesama juga sangat perlu untuk dilakukan. Selain itu, ditekankan juga kepada hadirin, sebagai manusia untuk tawadlu' sehingga mudah untuk saling memaafkan sesama.

Beliau juga menyampaikan tentang kesempurnaan pahala puasa ramadlan dengan puasa syawal berikut hari raya kecil dan filosofi ketupatnya. Beliau juga sempat mengutip dan menguraikan tentang tembang dolanan jawa yang biasa disenandungkan saat lebaran.

E dayohe teko
E dayohe teko
E gelarno kloso
E klosone bedah
E tembelen jadah
E jadahe mambu
E pakakno asu
E asune mati
E buak en kali
E kaline banjir
E buak en pinggir.

Sebelum acara ditutup, kegiatan mushafahah saling berjabat tangan antar peserta jamaah dilaksanakan sebagaimana laiknya kegiatan halal bihalal. 

@myh

6 Aktivitas Milenial agar Nggak Tidur Sehabis Shubuh saat Puasa


Saat ramadhan tiba, beberapa aktivitas mulai dilakukan sejak dini hari termasuk para anak muda, mulai dari bantu ortu memasak persiapan sahur, bangunkan adik kakak untuk makan sahur dan kegiatan-kegiatan lain yang menunjangnya, semua dilakukan dengan senang hati demi Ramadan kareem.

Nah, Sehabis sahur diteruskan dengan shalat shubuh, perut dalam kondisi kenyang tersisi, mata juga sedikit mengantuk karena harus bangun lebih awal dari biasanya, melihat nyamannya kasur dan empuknya bantal seolah ikut mengajak untuk tidur lagi setelah shubuh.

Kebiasaan yang kurang baik tersebut ternyata banyak dilakukan oleh sebagian besar orang-orang terutama kaum muda. Kadang sebagian mereka ada yang tersadar kemudian mengambil inisiatif untuk melakukan hal-hal lain agar tidak tidur setelah shubuh, seperti jalan-jalan, nongkrong-nongkrong pinggir jalan sambil maen hp, main petasan tengah sawah dan aktivitas lain yang mungkin kurang mengandung manfaat dan faedah.

Dari pada melakukan hal-hal demikian, berikut beberapa alternatif aktivitas positif untuk mengusir rasa kantuk dan tidur setelah shubuh, chek it out;

1. Baca al Qur'an

Menjadi tradisi di bulan ramadan, masjid, mushalla atau surau-surau menjadi ramai orang melantunkan ayat-ayat suci al Qur'an. Kemuliaan bulan Ramadan seolah mendorong kuat kepada umat muslim untuk memperbanyak amalan membaca kitab suci umat Islam ini.

Namun cobaan terberat adalah setelah tanggal sepuluh Ramadan, kebiasaan ini sudah mulai meluntur dan berkurang, hanya tinggal beberapa saja yang tetap istiqomah bertadarus.

Ini mungkin yang menjadi faktor datangnya rasa kantuk, kekosongan akan aktivitas kadang menjadikan tempat tidur sebagai tempat pelarian, coba gunakan untuk bertadarus, selain menambah pahala, syiar Islam dan suasana Ramadlanpun menjadi lebih terasa. Ajak teman-temanmu untuk ikut juga bertadarus, agar lebih rame dan menyenangkan.

2. Bersih-bersih

Bersih-bersih rumah dan lingkungan juga dapat menjadi pilihan yang tepat agar rasa kantuk tidak berkecamuk, apalagi bersih-bersih sudah menjadi tradisi masyarakat awam dilakuakan sebagai persiapan hari raya.

Lokasi berdebu, sarang laba-laba yang menumpuk, barang-barang rapuh yang minta untuk segera diganti menjadi seabrek pekerjaan yang cukup menyita pikiran dan tenaga. Jika udah mikir dan keluarin banyak tenaga, rasa kantukpun akan sirna.

Jika rasa kantuk cukup kuat, pilih saja bebersih yang bersentuhan dengan air, seperti cuci baju, korden, piring, ngepel, siram tanaman, ngelap basah kaca dan lainnya, dijamin rasa kantuk akan lari tunggang langgang. (Kalau masih ngantuk, cipratin aja airnya ke muka kamu, hehe)

3. Olahraga

Olah raga olah jiwa, begitu sitasi yang pernah tercatat. Selain untuk menghilangkan rasa kantuk, olah raga juga dapat berfungsi sebagai media mengolah jiwa. Karena dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang sehat pula.

Membiasakan olah raga memang tidak mudah, butuh komitmen dan niat yang kuat agar olah raga bisa rutin dilakukan. Jalan santai, jogging merupakan olah raga ringan yang pas bagi pemula, tiap hari dapat ditingkatkan sedikit demi sedikit dari level yang ditargetkan.

4. Menulis

Kegiatan satu ini, juga sangat efektif dan bermanfaat untuk mengisi waktu kosong sehabis shubuh, pikiran yang masih fresh dan bening akan dapat menjaring banyak ide kreatif dan brilian. Buka laptop atau smartpone kamu, ketiklah beberapa kata kemudian kembangkan menjadi beberapa tulisan menarik.

Tulisan yang menarik dan menggugah dapat juga di upload di media sosial milik kamu, siapa tahu banyak anak muda seusiamu di luaran sana yang terinspirasi dari gagasan dan pikiran yang kamu tuangkan dalam tulisanmu. Rasa kantuk sirna, manfaat dan faedah melimpah.

Bagaimana? Cukup mudah bukan untuk menghilangkan rasa kantuk sehabis shubuh. Gunakan waktu muda kita untuk hal-hal yang positif terlebih di bulan yang penuh berkah ini.